Skip to content

Pesta Rondang Bintang milik siapa?

19 Desember, 2008

Limantina Sihaloho 

Di salah satu pojok Taman Bunga Pematang Siantar di sisi barat, terdapat sebuah spanduk yang memberikan informasi bahwa Pesta Rondang Bintang tahun ini berlangsung di Parapat, tepi Danau Toba, pada tanggal 11-14 Desember. Mengapa Parapat lalu menjadi tempat pavorit untuk pesta yang sejatinya berasal dan menjadi milik asli Tanah Simalungun ini?.

Betul bahwa Parapat masih menjadi bagian dari Kabupaten Simalungun secara geografis tetapi kalau kita tinjau kultur dan keadaan sosial-politiknya, sulit mengatakan bahwa Parapat adalah Simalungun. Ini sama sekali bukan bermaksud untuk mencari-cari perbedaan dan apalagi permusuhan tetapi saya sebagai bagian dari generasi muda bangsa mau agar kita dapat menempatkan hal sesuai dengan porsinya yang benar dan masuk akal. Pesta Rondang Bintang sejatinya harus berlangsung secara bergilir di wilayah Simalungun, tidak boleh berulang-ulang di satu tempat saja.

Dulu di Tanah Simalungun

Saya bertanya kepada ibu saya yang sudah berusia 60-an tahun tentang bagaimana dulu bentuk Pesta Rondang Bintang kala ia masih kecil hingga remaja. Ibu saya menjelaskan bahwa dulu itu, pesta yang khas milik kaum muda ini berlangsung secara berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain di wilayah Simalungun. Para remaja dan muda-mudi datang dari penjuru Tanah Simalungun. Mereka membawa beras dan makanan lainnya; mengolahnya bersama-sama dalam bentuk kepanitiaan di lokasi pelaksanaan pesta.

Bagi kaum muda, ini tidak sulit sebab dalam pesta-pesta adat yang berlangsung di desa masing-masing, sudah ada pola kerja sama untuk melancarkan segala macam jenis pesta adat. Bahkan sampai hari ini pun, kalau kita pergi ke desa-desa di Simalungun atau di hampir mana saja di Indonesia ini bahkan di dunia ini, pola kerja sama ini sudah berlangsung secara turun-temurun.

Berbeda dengan kebiasaan yang berlangsung di perkotaan. Contoh yang paling mudah adalah kalau berlangsung pesta nikah dan acaranya di balei bolon atau sopo godang. Biasanya, keluarga dan kerabat tak lagi sibuk mempersiapkan terutama makanan dalam adat-istiadat Batak; sudah bisa tinggal pesan saja dan terima siap di tempat. Di desa-desa tidak begitu. Para lelaki bekerja sejak pagi mengurus lauk-pauk; perempuan menanak nasi dalam periuk-periuk besar. Di sini terjadi interaksi dan proses pembelajaran satu terhadap yang lain dan dari generasi yang lebih tua kepada generasi yang lebih muda.

Sawah-sawah di Urung Panei dulu memanjang berkelok-kelok mengikuti lembah dari hulu sampai ke hilir dulu menghijau dan subur. Sangat indah! Air melimpah mengalir dari Gunung Simarjarunjung lalu berakhir di Danau Toba. Sekarang? Persawahan itu sudah hancur, tak lagi layak disebut sawah. Tak ada lagi yang menanam padi di sawah. Benih padi sawah di Simalungun bernama eme sipadang yang sangat enak itu saya kira malah sudah lama punah. Penduduk sekarang hampir semua beli beras. Untung beberapa keluarga masih mau bertanam padi darat, eme sigambiri.

Girang hati saya setiap kali akan berlangsung pesta pariama (pesta panen) di Urung Panei yang biasanya berlangsung di gereja kala saya masih kecil. Setiap keluarga menanam padi; setiap keluarga ikut berpesta panen; pesta ucapan syukur kepada Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi manusia lewat hasil pertanian. Tradisi inipun sekarang sudah hilang. Sebabnya? Bagaimana pula mau berpesta panen kalau tidak ada yang dipanen? Di hampir seluruh dunia yang mempunyai tradisi sejenis, pesta panen sangat erat berkaitan dengan pesta panen makanan pokok. Di Simalungun ya padi itu, baik yang berasal dari sawah maupun dari tanah-darat.

Budaya dan indentitas sosial-politik

Kehidupan di pedesaan Simalungun sekarang ini, bahkan di banyak desa di konteks zaman yang semakin berkultur instan ini sudah banyak berubah ke arah yang kurang menggembirakan. Toleransi semakin rendah kualitasnya; individualisme semakin tajam. Budaya gotong-royong seperti marharoan bolon (bekerja sama terutama di lahan pertanian) sudah hampir punah. Sudah dalam hampir setiap rumah terdapat televisi dengan program-program yang kebanyakan tidak berguna bagi warga desa; acara-acara yang berlangsung di dalamnya malah potensial membuat mereka hidup di alam yang tidak nyata.

Degradasi budaya di zaman kita ini bisa berlangsung diam-diam tetapi pasti; laksana kanker yang pada stadium-stadium awal tidak terasa sakit bagi penderitanya. Komunitas bahkan sebuah bangsa adalah sebuah organisme layaknya tubuh manusia. Ia perlu melakukan pemeriksaan kesehatan (general check-up) untuk mengetahui bagaimana tingkat kesehatannya. Ini yang tidak kita lakukan dengan baik sebagai sebuah komunitas maupun sebagai sebuah bangsa secara bersama-sama bukan elitis separatis. Khusus untuk konteks Simalungun, pemeriksaan kesehatan dalam hal budaya ini juga belum berlangsung dengan baik.

Pesta Rondang Bintang adalah sebuah pesta budaya khas milik Simalungun. Di dalam pesta yang telah menjadi tradisi di Simalungun ini terkandung banyak unsur dan nilai fundamental sebuah komunitas, sebuah suku. Semakin kuat sebuah suku melaksanakan tradisi budayanya secara dinamis, semakin kuat pula identitas sosial politiknya; semakin jelas martabat dan harga diri kemanusiaannya. Manusia yang tak berbudaya secara otomatis adalah manusia yang tidak memiliki daya tawar sosial-politik; secara otomatis juga tak memiliki identitas yang kokoh.

Pesta Rondang Bintang adalah sebuah pesta yang sangat erat berkaitan dengan alam lingkungan agraris yang subur; sebuah pesta panen; pesta syukur merayakan kebaikan Tuhan. Dalam pesta ini, terutama generasi muda, kaum remaja dan muda-mudi, yang bergerak dan berkumpul. Remaja muda-mudi adalah kesuburan itu sendiri; generasi yang energik dan gembira. Dulu, setiap kampung biasa membawa contoh hasil panen dari kampung masing-masing termasuk beras yang antara lain untuk dimakan bersama saat pesta berlangsung selama berhari-hari itu.

Belakangan ini, karena urusan Pesta Rondang Bintang bukan lagi urusan masyarakat tetapi telah beralih menjadi urusan pemerintah lewat dinas pariwisatanya, kegiatan ini sudah tinggal menjadi tindakan simbolis yang kerdil.           Pesta Rondang Bintang sekarang ini telah menjadi seperti anak dara yang kehilangan jiwanya karena dipisahkan dari kekasih pujaan hatinya; seperti ikan dari sungai yang dibawa kera ke atas pohon karena kera kasihan ikan itu kedinginan di dalam air.

Kesalahan pemerintah dan dinas pariwisata adalah mengambil Pesta Rondang Bintang yang telah menjadi milik masyarakat secara turun-temurun; mengira bisa membuatnya tetap hidup di luar habitatnya yang asli. Maka yang sering kita dengar adalah usaha-usaha pemerintah untuk menjual kegiatan-kegiatan budaya milik masyakarat baik di tingkat nasional maupun internasional; memaksimalkan daya tarik turis terutama manca negara untuk datang menonton. Efeknya menurut pemerintah adalah perbaikan roda perputaran ekonomi. Betul? Tidak juga! Yang terjadi malah pengeroposan tulang-belulang jiwa dan spiritualitas masyarakat yang sekarang sudah berada dalam keadaan akut. Kebudayaanlah juga yang menjadi tulang-belulang bagi jiwa sebuah masyakarat atau bangsa. Kalau kebudayaannya tidak dinamis dan tumbuh terawat, maka sekaratlah ia; kebudayaan itu juga adalah jiwa, roh.

Kembalikan Pesta Rondang Bintang kepada masyarakat sebagai pemiliknya yang asli. Kalau dulu masyarakat bisa mengelola dan menjalankan pesta budaya ini demi memperkuat soalidaritas sosial-politik dan identitas budaya mereka, sekarang pun pasti bisa. Pemerintah dan dinas pariwisata tidak akan berdaya mengusung roh sebuah komunitas atau bangsa sendirian; itu mimpi di siang bolong! Pesta Rondang Bintang yang tercerabut dari tanah di mana rohnya berurat berakar hanyalah pesta rondang bintang jadi-jadian. ***

 

Tulisan ini sudah dimuat di Metro Siantar pada tanggal 11-12-2008.

Limantina Sihaloho

Pemerhati kebudayaan, tinggal di Pematang Siantar.

 

One Comment leave one →
  1. 3 Januari, 2012 8:26 am

    Demikian pula tempat tempat yang terbentuk oleh alam seperti gunung, lembah dan hutan rekreasi yang subur, sangat terasakan besar energi prananya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: