Skip to content

Ulos Batak Mampu Disejajarkan dengan Songket Palembang

11 Januari, 2008

Imran Napitupulu           

Ulos dan songket Batak masih belum banyak diperkenalkan dalam dunia fashion. Padahal ulos Batak merupakan heritage (warisan) budaya Batak. Jika ulos ini punah dan tidak ada lagi yang memproduksinya, maka Batak akan kehilangan ulos sebagai salah satu warisan nenek moyangnya. Untuk itulah, Merdi Sihombing akan mengaplikasikan dalam bentuk fashion yang akan digelar di Jakarta, bulan Mey 2008. 

Merdi Sihombing, perancang busana top dari ibukota Jakarta, akan mewujudkan kemungkinan baru pengembangan tenunan khas ulos Batak. Kemudian, untuk menambah khasanah pengetahuannya atas keberadaan ulos sebagai warisan Batak, dia melakukan survey mulai dari Samosir, Tobasa, Taput,  hingga ke daerah Tapsel. 

Umumnya, di daerah-daerah sentra produksi, partonun hanya memproduksi ulos yang biasa digunakan untuk keperluan adat. Di antaranya, sadum, ragi idup dan ragi bolean. Jenis ulos lainnya, tidak lagi ditenun. Karena, kurang laku di pasarkan. 

Merdi mengaku, dianya sedang melakukan jelajah ulos Batak. Saat ini, ulos  sudah mulai langka. Dia berupaya memberikan bantuan berupa bahan, seperti benang dan pewarna alami. Tujuannya, agar pengembangan ulos batak itu dapat dilakukan oleh beberapa partonun di daerah. Hasil tenunannya, tidak mengandung toxin, zat kimia berbahaya. Sebab, semuanya berasal dari tumbuh-tumbuhan. Masih mudah diperoleh. Terutama di daerah Samosir. Semuanya friendly environmental, ramah lingkungan. 

Merdi nampak sangat terkesan, saat berkunjung Kamis (10/1) ke rumah seorang saudagar ulos Darwin Siahaan (40) di Kec. Laguboti, Kab. Tobasa. Kekagumannya akan corak motif ulos lama, yang berumur ratusan tahun, koleksi Nai Dipa boru Sibuea, tidak dapat disembunyikannya. Ekspresi kepuasan, nampak jelas tersemburat di wajahnya, terutama saat mengamati indahnya koleksi ulos boru Sibuea. 

Hasil jelajah yang dilakukan, menurut Merdi, corak ulos seperti yang ditunjukkan boru Sibuea itu, pernah ditemukannya di daerah Silaen. Bahkan, menurut buku yang pernah dia baca, jenis ulos dari bahan sutera, sudah mampu ditenun nenek moyang kita dulu.  Namanya disebut  Ulos Sintara.

Sama halnya dengan songket Samosir yang didisainnya, hasil tenunan dari desa Lumban Suhi-suhi Kab Samosir, yang dipamerkan di gedung JCC, Balai Sidang Senayan Jakarta, dalam acara  gelar tenun nasional, tgl 12 s/d 16 Desember 2007 lalu. Gelar tenun tersebut diselenggarakan Ditjen Industri Kecil dan Menengah Dep Perindustrian. Dibuka secara resmi Ibu Mufida Jusuf Kalla,.diikuti pengrajin daerah dari seluruh Indonesia 

Saat ini, harga ulos Batak di pasaran, hanya berkisar antara Rp 150.000 hingga  Rp 2000.000,- sedangkan kalau sudah dimodifikasi menjadi songket, harga jualnya bisa meningkat beberapa kali lipat. Dengan nilai jual yang semakin tinggi, tentu saja bisa meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan partonun di daerah ini.Momentum gelar tenun nasional, dengan modifikasi hasil kerajinan tenun seperti yang dirancang Merdi, bisa dikategorikan sebagai upaya diversifikasi produk kerajinan tenun. Pasalnya, pangsa pasar yang semakin luas, pada gilirannya akan meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan pengrajin.

Pengembangan songket, menurut Merdi menjadi perhatian yang mendapat prioritas. Sebab, umumnya ibu-ibu yang berada di kota besar seperti Jakarta, lebih senang menggunakan songket Palembang, pada setiap acara pesta yang ada. Padahal,harga songket Palembang, jauh lebih mahal. Dan, hanya sanggup dibeli kalangan tertentu saja. “Aneh ‘kan”, sebutnya. 

Desain yang dikembangkan Merdi, merupakan hasil karya penggalian ornamen budaya Batak yang kemudian diekspresikan dalam rancangannya. Memang disain baru terus digali dan dikembangkannya.  Ciri dan motif yang ada, tidak dirobahnya. Hanya saja, bahan benang yang digunakan dan pewarna alami yang dipakai, sesuai yang dianjurkannya. Eksistensi ulos sebagai tenunan khas Batak yang asli, akan tetap dipertahankannya. Setiap kelompok partonun yang dibina, tetap dipertahankan ciri dan spesifiknya masing-masing.

Kerja sama dilakukannya dengan PT. South Pasific Vistcost. Fashion yang digelar akhir Mey mendatang, sebagai perwujudan kemungkinan baru pengembangan tenunan khas Ulos Batak. Tujuannya jelas, yaitu ingin mensejajarkan tenun ikat kain ulos Batak dengan songket Palembang.

Tautan :

Ulos Produk Eksotik
Proses Pembuatan Ulos
Ulos Mesa
Sopo dohot Ulos
Perajin Ulos
Baliga Ditangan Pria
Ulos batau Untuk Sultan Jogya
Tenun Ulos ATBM
Mengenal Ulos Batak

23 Komentar leave one →
  1. Rondang br Siallagan permalink
    10 Februari, 2008 11:39 pm

    Walaupun tidak bisa nonton saya ingin beri ucapan “Semoga berjaln lancar dan sukses pargelarannya..Ito Merdi”.
    Horas.

  2. merdi sihombing permalink
    20 Februari, 2008 5:07 pm

    MAULIATE ITO UNTUK DUKUNGANNYA

    HORAS……

  3. Erfanus Siboro permalink
    28 Maret, 2008 3:57 am

    Horas…kak Merdi..hmmm sepak terjang kak Merdi di dunia Fashion sangat patut diacungkan jempol…..
    Senang banget rasanya semakin banyak orang yang mau memperhatikan Ulos tercinta…
    Ditengah maraknya dunia fashion yang Harajuku dan Western Abiz..kita justru harus bangkitkan eksistensi Ulos…
    Saya sendiri sangat mencintai budaya dan heritage indonesia..untuk itu setiap ada kesempatan dipercaya merancang ato mendesign Kostum ato dekorasi untuk suatu acara..saya selalu menempatkan Culture unsure..seperti Ulos dan batik…
    satu hal kerinduan saya..Motif dan kain Ulos dapt menggantikan seragam batik nasional atau daerah di Sumut..memang batik dan Ulos sama2 heritage indonesia..tapi batik kan lebih ke javanesse..sementara kenapa Ulos tidak bisa Booming sebagai seragam…
    Saya sendiri memang kelihatannya agak nyentrik , klo saya pakai baju2 design saya yang ada unsur Ulosnya..memang orang agak aneh liat saya …tapi saya pede abiz,,”NEH GUE BATAK geto Loh…”🙂
    yah Kalo gak Kita Siapa lagi, gitu!!!! heheehh..
    pengen seh liat pagelarannya..tapi jakarta yah???
    hmmm semoga aja saya ketimpuk rejeki buat ongkos ke jakarta….tapi lebih penting saya bisa dapet undangannya…
    Sukses Luar biasa selalu bagi kak Merdi Sihombing…
    God Bless……………..

  4. Regina permalink
    4 April, 2008 10:04 am

    Ulos menjadi seragam?

    Hmmmm…..sehalus-halusnya bahan ulos, tetap tidak nyaman untuk dikenakan hari-hari di negri yg sepanjang tahun panas ini. Ulos hanya tepat digunakan di dataran tinggi sana. Atau di ruang yg dingin karena alat pendingin….yg jika kita ngotot untuk mengenakannya sebagai baju (atasan), itu artinya kita pun menuntut agar ruangan tersebut nyaman bagi yg mengenakan ulos sebagai baju seragam.
    Di tengah isu pemanasan global dimana pemakaian pendingin ruangan (nyaman di kita tapi menghasilkan panas untuk orang lain) perlu dikurangi, apakah cukup bijak ide menggunakan ulos sebagai seragam?
    SAya pribadi tidak setuju dengan motif ulos atau ulos yg dikembangkan menjadi taplak, tas, sandal, hiasan dinding, dll. Mengingat nilai filosofis yg tekandung dalam fungsi dan motif ulos tersebut….

    Biarlah ulos tetap berfungsi seperti fungsi awal ia diciptakan karena dalam fungsi itulah ULOS bermakna dan bernilai.
    Jangan karena dalih ingin melestarikan ulos, maka kita mengembangkan kegunaannya. Kenapa bukan wadah atau kesempatan dimana ulos bermakna dan bernilai, seperti upacara adat pernikahan, kematian, dll, itulah yg dilestarikan?

    Regina

  5. Saor Silitonga permalink
    30 April, 2008 11:13 am

    Horas Lae!
    Ketepatan itoku “Nurmaya Br. Silitonga” adalah pengusaha ulos dan songket Tarutung. Sudah 3 kali ke Jakarta untuk EXPO. Kalo lae mau kenal, ito itu buka kios di Pasar Tarutung dan tinggal di komplek stadion. Joy Tobing salah satu yang pernah belanja ke situ.
    Benar, ini suatu peluang yang saya lihat masih perlu perhatian agar ulos/songket tarutung bisa menjadi milik nasional dan dunia tentunya.
    Horas!!! Sukses ma ate Lae…..

  6. clara permalink
    19 Mei, 2008 6:17 am

    Karena dingin AC di Gedung Jakarta ini, tanpa malu-malu aku selendangkan ulos magiring. Kata teman-temanku seperti kain dari Kupang…bukan kawan…ini ulos batak merupakan pemberian Tulang suamiku diulosikan krn aku belum dapat anak 7 tahun lalu. Sekarang aku sudah ada satu Ucok …ulos itu sayang cuman dilipat dilemari untuk sekian lama. Lantas dingin AC dikantor kenapa aku musti simpan-simpat, ulos ini aku pakai pengganti Pasima….bagus….kok

  7. clara permalink
    19 Mei, 2008 6:45 am

    diralat.. dan maaf ulosn yg saya maksud bukan Mangiring tapi Bintang Maratur. Kalo Mangiring …Saya perhatikan lebih sering dipakai untuk melihat orang meninggal….Mangirin itu gelap tapi Bintang Maratur itu lebih bisa diterima orang banyak krn coraknya lebih garis-garis panjang, warnanya tidak gelap sekali. Rupanya saya harus belajar untuk mengenal ulos dan coraknya…..siapa mau buka course untuk mengenal ulos dari corak, jenis dan kegunaannya. Saya pernah dimarahi orang hita krn saya salah penggunaan ulos. Ayo…siapa yang mau buka course …kasihan kita sudah jauh dari kampung leluhur, negri dan lingkungan.

  8. 29 Mei, 2008 11:27 am

    Horas…..

    aq baru dapat blog ini…..

    sebelumnya aq dapat britanya di kompas.com dan aq beritakan di situs anak-tarutung.com

    “Sebuah Inovasi baru Pada Ulos Batak Ala Merdi Sihombing”

    cukup menarik,jika ada org batak yang mau mempromosikan kain khas dari daerahnya…..di dlm sebuah pertujukan……..

    Regards

  9. erfanus siboro permalink
    3 Juni, 2008 3:05 am

    Horas n Syaloom…
    nanggapi pernyataan ito Regina neh…
    hmmmm saya kira gak ada alasan deh untukmengatakan Ulos itu panas…dan hanya cocok di pakai di gunung…
    mungkin ito hanya mengenal beberapa ulos yang berbahan kasar dan panas…tapi ada lh beberapa ulos yang berbahan dingin…
    nah salah satu mengatasi agar tidak panas dan gerah memakai pakaian berbahan ulos adalah dengan menambahi dalaman dengan bahan sutra misalnya, atau jenis kain lain yang berbahan dingin….terbukti kok saya udah pakai, dan ada beberapa baju tuh…
    nah masalah filosofi ulos, saya kira tidak ada nilai yang berkurang ketika kita menggunakannya sebagai bahan taplak meja, jas, rompi, dsb…
    nah..ketika kita berpikir terlalu meninggikan Ulos, hati2 loh kita akan melewati batas yang dikatakan dengan menyembah berhala…
    nah dengna pemakaian ulos yang diaplikasikan dalam bentuk barang lain, kita akan semakin menunjukkan eksstensi Ulos dan budaya batak..
    bah ima jo tu si.. ate
    Horas jala Gabe ma di Hita Saluhut Na..

  10. 11 Juni, 2008 1:07 pm

    Merdi Sihombing memang dahsyat …
    Saya melihat pagelaran kedua yang ditampilkan di Hotel Borobudur

    Unsur Bataknya sangat kental dalam acara berskla Nasional ini.
    Modelnya juga top. TOP model Indonesia
    Lae Merdi, aku bangga bisa mengenalmu … …
    Maju terus

  11. E. Regina Purba permalink
    13 Juni, 2008 11:11 am

    Mau nanggapi Bang Erfanus dan Clara:

    Kalau seperti pengalaman Clara , saya juga ngalami, untuk gaya dan agar tidak tersiksa dingin, ulos sangat menolong di ruangan ber-AC.

    Empat tahun lalu, selama 3 tahun saya tak bisa berbuat apa-apa dengan AC ruangan yang sangat dingin (sangat!) karena senior yang satu ruangan dengan saya, mengaku kepanasan jika AC hanya bersuhu 20. Setahun ini, saya bisa nyaman di ruangan saya dengan suhu 27, selama musim hujan ini sering tidak pakai AC sama sekali karena saya tidak mau melewatkan suara hujan turun dan wangi tanah dan daun-daun dari halaman hijau di luar sana.

    Jika memang sudah nyaman berpakaian di suhu 28, kenapa harus repot pilih pakaian yang nyaman di suhu yang sengaja diatur 20?

    Kalau pakai AC demi menghindari debu di luar sana, itu perkara berbeda.

    Ketika mengalami musim dingin dan gugur, dengan senang hati saya memakai selendang ulos dan tenun Flores sebagai shawl pelindung leher. Berhubung warna dasar ulos adalah coklat, hitam, merah tua, putih, benda ini tidak cocok dikenakan ketika suasana terang benderang saat musim semi atau panas. Memakai ulos pada kesempatan seperti itu, juga mengobati “homesick” yg menyerang di musim dingin.

    Sama seperti ketika berkunjung ke Tanah Karo, Samosir, mengenakan ulos di leher dan bahu itu, bisa memberi rasa hangat baik fisik maupun emosi. Setidaknya bagi saya.

    Bang Erfanus, ketika membayangkan ulos sebagai seragam, saya kebayang baju seragam untuk orang kantoran, setidaknya pegawai pemda . Apa sanggup, membeli bahan ulos untuk baju seragam dengan kualitas yg baik, tidak kasar, nyaman?? Dilapis sutra pula.

    Kalau pegawai pemda di Samosir atau Tanah KAro pakai bahan kain ulos, ya cocok aja. Suhu bisa jadi alasan, juga sentimen kedaerahan. Jauh lebih arif bijaksana daripada mereka pakai JAS BERDASI DAN BERKACA MATA HITAM safari keliling daerah bertemu rakyat!

    Ulos dengan harga menengah masih cukup panas ketika dikenakan sebagai atasan, misal di Medan atau Jakarta, pun ketika sebagai bawahan, rok misalnya. Dan lagi, mencucinya tidak mudah.
    Kalau rancangan Merdi Sihombing dapat dibeli dengan harga terjangkau, dan memang nyaman, saya mau coba.

    Sama seperti tren motif batik akhir-akhir ini. Apakah si pemakainya mau menunjukkan eksistensi Batik, atau memang cinta motif Batik, atau sekedar ikut mode, ada banyak alasan. Sekedar ikut mode, mungkin alasan utamanya.
    Saya suka dan kadang pakai baju atasan putih dengan rok motif Batik, jadi gak ada hubungan dengan tren motif batik sekarang ini.

    Saya mencintai dan mengagumi ulos sebagai benda dan motif yang memiliki nilai filosofi saat dia digunakan sebagai fungsi dasarnya, ya seperti ketika diberikan di pesta pernikahan dan kematian.

    Kenalan saya memanfaatkan ulos yg banyak ia terima saat pesta pernikahannya sebagai bahan tas dan taplak meja!
    Kalau seperti itu, pemberian itu menjadi tak berharga dan ulos menjadi turun derajatnya.

    Menunjukkan eksistensi suatu budaya, dalam hal ini ulos, tidak harus membuatnya menjadi benda yang multiguna. Kecuali Bang Erfanus punya niat untuk memanfaatkan “demam” motif ulos sebagai kesempatan bisnis. Itu hal lain.

    Yang namanya demam dan pasaran, ya tidak bertahan lama.

    Sama seperti Batik tulis, jika menginginkan batik tulis asli, bahan dasar katun dan sutra sudah memadai dengan harga yg lumayan.
    Batik tulis tidak pernah dibuat di atas bahan dasar shantung. Maka, jika kita tetap pengen pakai motif Batik yg terjangkau, ya belilah shantung dengan motif batik cetak dan dijamin Anda akan kepanasan.

    Pada awalnya, nenek moyang Batak tidak pernah fungsikan ulos sebagai taplak meja dan seprai di atas tikar (tolong koreksi kalau saya salah).
    Jika saat ini motif ulos dan kain ulos jadi multi fungsi, alasan menangkap peluang bisnis lebih mengemuka.

    Lebih baik, wadah atau kesempatan dimana ulos bermakna dan bernilai, seperti upacara adat pernikahan, kematian, dll, itulah yg dilestarikan? Jadi, daripada pakai songket Palembang atau Batik Sutra di acara kawinan Batak, kenapa tidak pakai ulos saja semuanya?

    Jangan sampai terjadi, yang punya acara kawinan dengan bangga memakai kain songket dan batik tulis sutra , namun memberikan cinderamata dompet atau gantungan kunci bermotif dan berbahan ulos!!!

    Regina

  12. 15 Juni, 2008 6:37 pm

    Songket Indah dan Ulos yang lembut karya Merdi Sihombing boleh dilihat di
    Photo Gallery ini.

  13. midian sefnat sihombing permalink
    16 Juni, 2008 6:45 pm

    horas tu hame sasude…
    Ulos & songket Batak(Tatutung,Tobasa,Sipirok,Samo
    sir)sudah saya buat menjadi sgt halus,sgt nyaman,sg
    t indah dan sdh terbukti keseluruh dunuia(tamu2 yg adir semuanya dari seluruh dunia)bisa digunakan kapan,suasana apa saja.
    Tunggu next episode”HERITAGE,SCIENCE &TECHN
    OLOGY”kain tenun Batak menjawab tantangan dunia fashion & interior.

    MERDI SIHOMBING

  14. jung art permalink
    23 Juni, 2008 2:08 pm

    horas semua . menurut aku sebagai perajin ulos dan songket. itu hanya perbedan org batak dalam mencintai ulos aja. sekarang tergantung kita sejauh mana cinta akan hasil karya nenek moyang kita ini. mau di pake pesta. greja, kantor, ato casual.sah2 aja. gmn bs tetap ada aja nama ulos itu jgn ampe punah. salut buat lae merdi yg bikin jalur promosi lewat fashion. tapi kalo saya ga salah edward hutabarat juga dah bikin cara yg sama pada tahun 1984. ke belanda malah. hasilnya apa. ga ada respon.boro 2 org yg bkn batak. yg batak aja pake songket palembang kalo merid. hasilnya tetap aja tuh harga ulos batak.dan songket tarutung ga naik2.karna tdk ada permintaan yg berarti bkn?
    sementara harga bahan baku bikin ulos naik juga 30% itu brarti blom ada hasil bukan? msh banyak PR untuk qt tentang ulos. aku harap seh ada kerja sama antara pemerintah daerah, para disainer kondang( khusus yg cinta ama ulos, yg slalu bikin show sendiri2 dan terpisah ), dan para perajin ulos itu sendiri. mungkin ga yah ketiga pihak ini kerjasama total?
    apakah itu ”MIMPI KALI YEE”? bagi saya terlalu tinggi untuk mendisain ulos. bisa bikin smua jenis ulos yg udah ada dibikin opungta sijolojolo tubu aja adalh mimpi aku. dan menjadikan semua jenis ulos menjadi sarung/songket . saya pernah dengar nama2 ulos banyak bangat. sampai ada yg hanya koleksi aja. berarti kalo koleksi itu dimakan ngit2. ato terbakar karn kebakaran. ga ada lg donk duplikatnya. hanya tingal nama bukan?karna aku br bs bikin 5 macam ulos dan udah menjadikannya jd songket yg sarungnya 1 lembar kain utuh. tanpa kait jarum di tengah.siapa yg bisa bantu? jgn cuma ngomong dan kritik aja donk? kasih saran dan mau bagi ilmunya?
    yg tau bikin warna alam mau ga ngajarin perajin? pemda bs bikin pelatihan ga?
    kalo perlu bikin aja festival ulos batak. mungkin ga?

  15. 26 Juni, 2008 10:26 am

    horas……tulisan anda sangat bermanfaat semoga bangso batak lebih mengenal dan mampu membuat bangso ini bertumbuh dan berkembang.

  16. midian sefnat sihombing permalink
    29 Juni, 2008 2:50 pm

    mauliate lae jung art perajin yg MIMPI KALI YEE….
    songket Palembang sudah dikenal sejak awal abad 19 dikalangan Bangso Batak.Politik dagang yg sgt brilian dilakukan mereka.(para pedagang). Kata kebanyakan perempuan Batak ” tak akan cantik di pesta tanpa memakai songket Palembang ” .Bahkan image songket di negara ini adalah pasti songket Palembang.Di Indonesia hampir semuanya mempunyai kain dgn teknik Songket kecuali Irian.Sementara Ulos & songket Batak(Tarutun
    g,Toba,Samosir,Humbang,Sipirok)baru berapa tahun mulai dikenal secara meluas…Promosi sdh coba dilakukan oleh beberapa fashion desainer, al;Edo Ht.barat Valentino na70,Raden Sirait belakangan Merdi Sihombing yg mencoba memperkenalkan kain tenun warisan leluhur si Boru Deak Parujar dgn mendatangkan tamu/para insan textile dari seluruh dunia kefashion shownya yg disponsori oleh sebuah perusahan penghasil fiber dari Austria & kristal element Swarovski.Tanpa para sponsor tidak akan pernah ulos& songket Batak jadi pembicaraan dunia..
    berbeda dgn yg dilakukan Edo Hutabarat di Belanda yg mungkin atas prakarsa Pemerintah Indonesia atw pribadi.Juga Merdi Sihombing bukan hanya seorang Perancang Mode tapi juga punya basic akademi textile.(mahasiswa kriya textile IKJ).Ibaratnya kalau kita mau buat rumah,seorang desainer textile itu sbg Arsitekturnya setelah rumah jadi barulah ditangani oleh seorg Interior Desain dalam dunia fashion kita sebut Fashion Designer dan anda pengrajin disebut tukangnya(tk.jahit).Jadi kunci utamanya yg pertama untuk bisa mengangkat Ulos & songket Batak agar bisa menjadi tuan rumah buat perempuan2 Batak itu
    kerjasama antara desainer Textile dan pengrajin dulu
    baru setelah jadi produk yg sesuai dgn keinginan pasar(bahan halus,nyaman dipakai,warna sesuai dgn trend yg berlaku,harga disesuaikan dgn kepentingan pasar) tanggung jawab selanjutnya diberikan kpd Fashion Desainer utk membuat market berupa produk Fashion rancangan mereka.Tidak seperti selama ini yg sudah terjadi hanya ada pengrajin & Fashion Designer yg berusaha stngah mati untuk mencoba Ulos & Songket Batak agar bisa populer setara dgn Songket Palembang.Juga jgn menuntut pemda apalagi para ratunya,kamu tau pada gak jelas konsep2 mereka.utk saran mmbagi ilmu perlu dipikirkan,anda harus mengerti bahwa gak gampang menimba ilmu.seorg profesional harus dihargai keprofesionalannya.Kabar gembira…bukan hanya anda saja, saat ini beberapa pengrajin muda
    (Samosir,Tobasa,Taput,Tapsel)sdh memproduksi songket Batak yg tdk ada sambungan.Bahkan lebih dari 10 helai per-orangnya,dgn begini perlahan tapi pasti Ulos & songket Batak dgn kwalitas yg prima bisa dibuat diseluruh Bona Pasogit.Jg Ulos&songket Batak jadi brand image yg dahsyat setara dgn songket Palembang.Dan istilah Songket Batak yg dibuat di(Tarutung,Muara,Humbang,Tobasa,Samosir,
    Sipirok)menjadi populer…….Mauliate
    basa,Taput,Tapsel)sdh

  17. midian sefnat sihombing permalink
    29 Juni, 2008 2:57 pm

    maaf….ada kesalahan ditulisan terakhir ….”basa,Taput,Tapsel)sdh.
    mohon diperisa. mauliate

  18. 6 Oktober, 2008 3:54 am

    salam kenal semuanya, saya ike perajin songket palembang, menurut saya suatu saat ulos memang bisa disejajarkan dengan songket palembang, namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan;
    1. kita harus bisa melihat apa kelebihan songket palembang dibanding ulos, agar ada perbaikan yang positif
    2. kita juga harus tau apa kelebihan ulos dibanding songket agar kelebihan itu bisa dipopulerkan
    bila mau konsultasi seputar desain motif songket palembang silakn hubungi saya email: ikehelidora@yahoo.com
    dan bila ada yang mau lihat songket sialkn buka http://www.yeyensongket.indonetwork.co.id
    bila kita mau belajar dari kelebihan songket palembang maka ulos akan bisa sepopuler songket

  19. ocha albert hutabarat permalink
    13 Oktober, 2008 2:21 pm

    mauliate dihamu sudena. jelas sekali kita2 ini penerus bangso batak. saya dari kls 1 smp bisa bikin songket seperti songket palembang. dan saya sekarang uda 7 thn di jakarta. kuliah sambil kerja. banyak orang pengangguran yg blm dapat kerja. saya pernah buat songket di kontrakan saya di pondok gede. dan banyak yg pesan. tapi karna waktu saya sempit dan tdk ada yang bantu akgirnya saya berhenti sendiri. tapi timbul niat saya untuk membuat home industri dengan ide saya sendiri. kalau lae merdin mau membantu saya. semoga cita2 saya terwujud. hub saya di 0813 1654.8154. dan ide saya ini harus saya buat. Tuhan berkati saya.

  20. 24 Oktober, 2008 2:46 am

    selamat pagi,

    saya ike, saya ada pelanggan songket dari medan, kalau saya ambil kesimpulan ada 3 kelebihan songket palembang dibanding ulos,yaitu:
    1. bahan baku songket (terbuat sutera cina), benangnya lembut sehingga nyaman dipakai
    2.jenis benang emas yang bisa dipadukan dengan songket lebih banyak pilihan
    3.motif songket selalu berkembang, dikarenakan persaingan yang ketat di kota palembang, jadi setiap pengrajin harus selalu lebih kreatif

    semoga kelebihan-kelebihan ini dapat memotivasi pengrajin ulos.

    terimakasih

    jika ingin lihat koleksi songket palembang asli, silahkan lihat di http://www.yeyensongket.indonetwork.co.id

  21. erfanus permalink
    4 Februari, 2009 4:45 am

    Horas Bang Merdi….
    aku bkerja di perusahaan entertainment…
    renananya Sptember nanti kita mau buat pagelan busana lokal…
    boleh diskusi dan komunikasi dengan abg gak, yah sharing gitu…
    ada email, atau contact number?
    thx b4 yah bang
    GBU
    Erfanus siboro

  22. 22 Oktober, 2009 7:24 pm

    Sangat setuju, ulos seharusnya bisa dijadikan fashion stuff in daily lifes, tidak sekedar hanya dijadikan sebagai selendang yg diselempangkan dipundak, tidak hanya menjadi topi penghias, tidak hanya menjadi kaih pelengkap kebaya ibu2 di pesta2, seharusnya bisa lebih di eksplor,,dibuat jadi rompi, kemeja, dress, celana, dan lain2. Tapi permasalahaannya para tetua batak sepertinya agak tidak setuju kalau ulos diaplikasikan kedalam bentuk fashion ,,

  23. udur silitonga permalink
    11 November, 2009 4:12 am

    ulos? that’s a great cloth I ever known.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: