Skip to content

MAKNA PENYEJAHTERAAN PASKA RAYA

12 Agustus, 2007

Sijambur Nabolak, Pangururan, Senin, Paska Il, 9 April 2007
Terobosan Penghayatan Misi Kristen BaruMgr. Dr. Anicetus B. Sinaga OFM Cap.

Untuk mendacing makna historis Perayaan Paska Raya Samosir, Senin, 9 April 2007, pertama kita harus mengukur keberhasilannya, yang harus diperhadapkan dengan tantangan-tantangan yang dihadapi.

Bagian I

KHOTBAH YANG MENANTANG DAN MENGGELITIK

Even Paska Raya Samosir telah mendapat tanggapan yang luas: pada umumnya bersifat positif dan menjadi kekaguman banyak-orang. Bukti dari keberhasilan even perayaan paska oikumene diungkapkan al: oleh Bapak Bupati, dalam mendengar kesan peserta, baik pada tingkat lokal, maupun nasional. Mereka kagum akan even ini. Mereka semakin tertarik dan terbuka. Banyak hal-hal mengenai rencana pembangunan Samosir yang semakin terbuka dan kondusif berasal dari peristiwa Paska Raya Samosir.
Tetapi terdapat pertanyaan-pertanyaan yang cukup mengisi percakapan pasca-perayaan, terutama mengenai isi khotbah yang bersifat ‘baru’ dan ‘menggelitik’. Rasanya dibutuhkan suatu klarifikasi pertanggungjawaban isi, gaya dan metode berkhotbah seperti terjadi pada peristiwa ini.

1. Lukisan Panorama Peristiwa
Yang terjadi adalah pagelaran perayaan Paska Raya yang mengandung beberapa unsur. Yang pertama adalah inti kebaktian sendiri. Rombongan Pastor/Pendeta berangkat secara beriringan dengan kendaraan dari rumah Bupati Pemkab, menyusur jalan mendaki menuju Sitaotao. Tempat perayaan sendiri, yang sudah dirias baru dengan pemacakan pondok-pondok, meja kehormatan dan altar berdandan yang cukup luas, menghadap panorama yang aduhai, sudah merupakan kesuksesan tersendiri. Menjelang tempat upacara, menambah keanggunan dan kemeriahan, para pendeta dan pastor mengenakan busana liturgi yang mengagumkan. Termasuk bupati sendiri berias sebagai kepala suku, bertongkatkan tongkat magic tunggal panaluan.

Ibadat dibuka dengan sebuah fragmen kisah kedatangan misionaris pertama ke Ranah Batak. Disambut dengan simpati dan diampu dengan terbuka. Kemudian diadakan ibadat mazmur gregorian yang bersahut-sahutan dan membuai nurani kristen. Diakan ibadat lilin paska dan ritus air suci paska. Penyalaan lilin paska yang dihias sangat anggun, oleh para pamong rohani dan pemerintah sungguh menyentuh kalbu. Khotbah mencoba menukilkan secara ringkas makna dan amanah perayaan.
Malam sebelumnya, dengan mengolah perlambangan cahaya dan kegelapan dalam misteri paska, diadakan pawai obor. Rute pawai ini sendiri sangat bermakna simbolis: Di lembah Panguruan obor dinyalakan dalam kegelapan. Ibarat muncul dari sehol, obor diarak lewat tangga seribu ke Jambur Nabolak dari ketinggian 910 m permukaan laut ke 1500 m. Di Jambur Nabolak, obor-obor ini dipacakkan ratusan obor dan menjadi untaian nyala yang menerangi kepekatan malam. Dan ini terjadi di kaki Pusuk Buhit, gunung yang dianggap angker secara tradisional: tempat bertakhtanya Allah Batak tradisional, Mulajadi Nabolon. Di sana diadakan vigilia kebangkitan, untaian doa dan lagu rohani seolah berjaga di kegelapan menantikan kebangkitan. Olah misteri kegelapan dan cahaya untuk mengungkapan kematian dan kebangkitan adalah unsur naluri perlambangan rohani yang bahari dan mendasar. Hasilnya pun sangat menyentuh.

Sesudah perayaan agung Paskah Raya ini pun diadakan oratorium rohani yang memukau. Adalah fragmen hidup kristiani dan lagu-lagu rohani yang aduhai dari kelompok Arbab (Artis Batak Bermazmur). Sumbang pikiran dan tanggapan yang meryatakan keberhasilan ini diberikan oleh beberapa kelompok kristiani dan para pejabat, termasuk para intelektual yang mudik untuk ambil-bagian. dalam perayaan ini, dalam kerangka galangan pembangunan Kabupaten Samosir.

Kumpulan hadirin dalam perayaan mencapai sampai 2.500 orang, yakni dari denominasi-denominasi kristiani, kelompoak Batak tradisional, kalangan Pemkab Samosir dan Pemerintah umumnya, kelompok artis dan denominasi luar Samosir termasuk Arbab dan pengunjung dari Jakarta.
Dalam keseluruhannya, even Perayaan Paska Raya ini adalah suatu keajaiban dalam penyelenggaraan dan hasilnya. Sasaran-sasarannya pun dapat dicapai dengan memuaskan.

1. Gambaran Sukses
Dari segi sukses, Pesta Paska Raya, yang diadakan di tempat panorama terindah di Jambur Nabolak, kaki gunung suci Pusuk Buhit mengarah seluruh pulau Samosir, menghadap Tao Silalahi sampai ke pegungunan ranah Karo dan ke arah Sihotang yang dirias oleh gunung Ulu Darat. Gunung Ulu Darat sendiri telah melegenda dalam diri Si Boru Pareme, ibunda moyang dari puak Lontung. Pemilihan tempat panorama itu sendiri sudah suatu sukses yang memuaskan kalbu peserta perayaan.
Bagi kelompok umat kristiani juga merupakan suatu sukses, karena inilah pertama kali Pesta Raya Oikumene diadakan persis di kaki gunung angker Pusuk Buhit. Dan hasilnya sangat menggembirakan, karena sungguh perayaan menggambarkan kedatangan misionaris pertama, pembaptisan dan perayaan lilin paska serta air baptis. Nuansa-nuansa perayaan Paska seperti ini termasuk maju dalam item perayaan paskah oikumene sejenis.
Bagi penyandang darah agama tradisional, kendati mungkin sudah dibaptis secara formal menjadi kristen, juga perayaan ini merupakan rekonsiliasi, oleh penonjolan bahwa perayaan kebangkitan (paska) adalah puncak segala pengharapan dalam damba agama tradisional. Hal ini diungkapkan secara plastis dan mahir dalam khotbah perayaan.
Perayaan ini juga menjadi ungkapan syukur bagi aliran-aliran kristiani yang berasal dari luar daerah, terutama kelompok Arbab (Artis Batak Bermazmur) dari Jakarta. Mereka sendiri menjadi penyumbang oratorium kristen lewat fragmen dan lagu-lagu rohani. Bersama mereka juga terungkapkan kepuasan intelektual, yang dibawakan secara mengharukan dan tetesan air mata oleh Prof. Parhusip.
Tetapi, yang terutama paling berterimakasih adalah Pemda Samosir. Pemda ini, yang tampil sebagai penyandang dana dan penanggungjawab perayaan ini, punya dua harapan besar sebagai buah dari perayaan ini, Pertama ialah dekritnya bahwa primadonna Kabupaten Samosir dalam pembangunannya adalah pengembangan pariwisata. Sebagai tuas pengungkitnya didambakan adalah tawaran enterteinmen budaya Batak dalam kerangka pengembangan soft tourism, yakni menarik pengunjung demestik dan mancanegara lewat tawaran keindahan alam dan keindahan budaya setempat (Batak). Tidak hendak dikembangkan adalah hard tourism, dengan menggunakan daya tarik modern, seperti perjudian dan prostitusi menjadi enterteinmen.
Pada dasarnya, tujuan dari Pemkab Samosir secara substansial tercapai. Tawaran investor untuk membangun international prayer centre di tempat ini sudah terbuka. Yang lainnya sedang mempersiapkan sumbangsih bagi mendukung akselerasi pariwisata.

3. Kemelut Persiapan
Ide mengadakan Pesta Paska Raya Samosir sebenanrnya dicetuskan oleh BKAG (Badan Kerjasama Antar-Gereja-gereja), yang menggabung semua denominasi kristen. Kemudian, ide ini diampu oleh Pemkab Samosir dengan tujuan: Kesatuan seluruh rakyat adalah landasan yang ampuh bagi membangun program pariwisata soft trourism Samosir, yang dijadikan primadonna pe.mbangunan.
Terdapat tiga kendala yang sangat mengganggu dan dapat menggagalkan perayaan agung ini dalam dimensi tujuan-tujuannya.
Yang pertama adalah kendala dari kalangan denominasi kristen sendiri. Dari kalangan grup-grup denominasi kristen ini, secara sikap teologis terdapat tiga golongan. Golongan yang terbuka bagi mengampu budaya Batak dan serentak kekristenan diwakili oleh pihak Katolik, yang dikenal dengan teologi inkulturasinya. Tetapi sikapnya yang lembut dan netral tidak menempatkannya – kendati jumlah pengikutnya menuju setengah penduduk pada kengototan dan sebagai yang sangat berkepentingan. Kelompok ini baik-baik saja. Bahkan, perwakilan Katolik resmi (pastor) tidak hadir dalam penentuan siapa berkhotbah, peran yang sangat menentukan bagi saudara-saudara Protestan umumnya.
Yang kedua adalah kelompok gulat budaya. Kelompok ini dihadirkan terutama oleh HKBP. Kebetulan ketua BKAG disandang oleh Praeses HKBP. Kelompok ini keburu menyandang sikap yang kurang mesra terhadap budaya dan agama lain. Mungkin karena prakarsa pastoral – bukan teologis – dari Ephorus pertama Dr. Nommensen, kelahiran Jerman, gembala suci yang sangat berbakat dan bergelar terhormat “Apostel di Tanah Batak”, yang terpaksa memisahkan pengikut kristen pertama dari kampung-kampung Batak kafir, di Huta Dame, Tarutung, paruh kedua abad ke-19, sikap yang berkembang dari kelompok ini dan pecahan-pecahan Lutherannya cukup negatif terhadap budaya. Sampai sekarang, musik yang boleh mengiringi liturgi hanyalah musik tiup (asal Jerman) dan gondang Batak hanya beroleh akses kepada kemeriahan hiburan pesta kemanusiaan, menyusul perayaan ibadat. Tetapi, terutama belakangan, keterbukaan terhadap budaya semakin kondusif.

Gugus ketiga dari orang kristen mungkin dapat disebut sebagai “kelompok kaku.” Kelompok ini, yang lebih bersifat “gerakan keagamaan” (religious revival), terutama Saksi Jehowa, sangat menentang kebudayaan, !ebih dari gulat budaya. Mereka telah mengadakan pembakaran resmi ulos, sebab bagi mereka, ulos, sebagai salah satu kompendium budaya Batak, adalah lambang kekuatan kekafiran yang magis. Mereka tidak akan mengizinkan musik gondang dalam kelompok mereka, yang dianggap haram, baik pada hiburan pesta keramaian biasa, apalagi dalam ibadat. Semuanya itu haram hukumnya.

Catatan kita mengenai pengikut Saksi Jehowa: Agama Saksi Jehowa adalah penganut Perjanjian Lama Yahudi, yakni penganut aliran Yahwisme, yang sangat keras melawan sakramentalisasi atau peragaan dari kebenaran-kebenaran agama. Dengan kata lain, mereka belum menerima Yesus Kristus sebagai Putra Allah, Juruselamat dan Penebus. Mereka belum termasuk orang Kristen, dalam arti pengikut Yesus Kristus.
Kendala yang sangat mengganggu dan menentukan jadi-tidaknya Pesta Paska Raya ini timbu! justru dari pertentangan muatan aliran sikap teologis di atas.

Menimbang kepentingan soft tourism dari Pemkab Samosir, maka gondang dan pakaian adat tradisional Batak harus dijadikan unsur dari perayaan. Ini ditantang dengan mutlak oleh penyandang teologi fundamental. Penentangan ini sekian resolut sehingga, mereka menarik diri dari ambilbagian secara resmi dalam perayaan paska tsb.
Sisi lain dari penarikan diri dari kalangan pentekostal ini adalah penentuan pengkhotbah. Bagi kalangan Prostestan umumnya, fungsi pengkhotbah bersifat substansial. Mungkin mereka tidak sampai menarik diri dari ambil bagian secara resmi, sekiranya pengkhotbah diambil dari kalangan mereka. Sebab dalam khotbah sikap resmi mereka dapat disampaikan.
Tetapi perjuangan untuk hal ini gagal, karena pihak kristen lain tidak mendukung. Apaiagi sikap Pemkab cukup jelas harus memasukkan gondang demi mencapai tujuan soft tourism. Tetapi sebagaimana kelompok pentekostal ini tidak berhasil memperjuangkan pengkhotbah, demikian juga kelompok Lutheran. Rapat sepakat bahwa tugas pengkhotbah diserahkan kepada pihak Katolik, kendati dalam rapat sendiri tidak hadir perwakilan resmi Katolik. Kalau mungkin mengundang Wakil Uskup Agung Medan, Dr. A. B. Sinaga, yang cukup paham akan kebudayaan Batak. Dan akhirnya jadilah demikian.
Kendala kedua ialah dari hubungan sikap Batak “tradisional” dengan Pemkab Samosir. Pihak Batak “tradsional” memasang semacam kuda-kuda: Dari pihak mereka, pemakaian gondang dalam ibadat adalah mutlak. Kalau tidak: Mereka tidak disangko, dan dari pihak mereka, perayaan yang tidak memasukkan unsur budaya Batak, sepantasnya tidak dilakukan di Ranah Batak. Mereka mengintip dengan waswas: Apakah Pemkab Samosir berani mengambil keputusan memihak mereka. Dan sikap ini sangat disadari oleh Pemkab Samosir, apalagi memang ia sangat berkepentingan akan pagelaran budaya Batak (gondang) dalam kerangka primadonna soft tourism. Akhirnya Pemkab Samosir mendukung pemakaian musik gondang.
Kemelut ketiga ialah kecaman dari kelompok GAMKI atas kenyataan bahwa Pemkab Samosir mengambil alih pelaksanaan dan pendanaan Perayaan Paskah Agung ini. Alasan yang dikemukakan: Pemerintah bukan lembaga agama, karena itu tidak sepantasnya menjadi penyelenggara dan penanggungjawab perayaan keagamaan, seperti Ibadat Paska. Tidak jelas apakah sikap negatif terhadap adopsi unsur budaya dalam perayaan kristen. Sebab seperti diindikasikan di atas, cukup banyak unsur kalvinisme menyusup ke dalam teologi Lutheran di Indonesia. Karl Barth, yang tekenenal dengan tri-dalilnya cukup mendapat sambutan di kalangan pribadi teolog Lutheran, yakni Sola gides, sola Gratia dan sola Scriptura, hanya Iman, hanya rahmat dan hanya Kitab Suci. Selebihnya dianggap tidak halal masuk kedalam Gereja-gereja kalvinisme. Kenyataan pengaruh besar dari kalvinisme di Indonesia timbul dari sangat banyaknya Gereja-gereja Protestan di Indonesia berasal dan menganut ajaran teologi Kalvin (di Negeri Belanda) dan Gereja-gereja Lutheran hanya mengkristal sebagai minoritas di Tanah Batak dan Nias. Gereja GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) sendiri tergolong penganut aliran teologi kalvinisme (mis. Pdt Neumann).

Baiklah dicatat di sini bahwa Martin Luther sendiri tidak pernah bermaksud mengadakan sempalan dari Gereja Katolik (apostasia). Yang hendak disampaikannya ialah reformasi dari dalam Gereja Katolik, khususnya mengenai ajaran pembenaran lewat iman. Mengenai masalah yang satu ini, pihak Gereja Katolik dan Gereja-gereja Lutheran telah mengadakan Pernyataan Bersama mengenai Ajaran Pembenaran, 31 Oktober 1999. Artinya sudah ada keserasian dan kesepakatan, sampai titik tertentu. Sikap inkulturatif Luther bahkan mengatasi positivitas Katolik, bila diingat: Tatkala Katolik mempertahankan Kitab Suci Vulgata dalam versi bahasa Latin, buat seluruh dunia, Martin Luther langsung menerjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa Jerman, sehingga mencapai kebanyakan umat, dalam bahasa ibunya.

4. Vivere Pericoldso
Uskup A. B. Sinaga, baik sebagai Uskup maupun sebagai sarjana, menyanggupi menjadi parjamita pada Pesta Paska Raya, Sijambur Nabolak. Tugasnya tidak gampang. Bermacam friksi mashab teologis dan kemasyarakatan menghadang langkahnya membawakan fungsi pengkhotbah, yang bersifat menentukan.
Kerangka khotbahnya sebenarnya sangat sederhana. Tetapi justru dalam kesederhanaan itu, karena sikap-sikap teologis yang khas Katolik, sangat membuatnya terpaksa mengarungi laut beranjau. Panitia telah menyediakan gondang menjadi unsur ibadat, hal yang menjadi skandal bagi kelompok kristen fundamental.
Khotbah yang cukup memukau sebagai orator dan ahli batakologi dibagi atas tiga bagian: Sapaan kepada agama Batak tradisional; Muaranya yang mutlak harus menerima iman dalam Yesus Kristus, dan; Misi kristiani menuju modernisasi. Mungkin maksudnya untuk mencapai suatu kohesivitas iman dan budaya menuju pembentukan iman kristiani masa mutakhir.

a. Sapaan kepada Agama Batak Tradisional
Sebagai salah seorang sarjana batakologi, dapat diandaikan bahwa Uskup Dr. A.B. Sinaga cukup paham akan isi agama Batak tradisional. Yang belum biasa dalam telinga khalayak non-Katolik adalah cara membawakan dan merumuskan sikap teologisnya terhadap agama-agama non-Kristen pada umumnya dan kepada agama Batak tradisional pada khususnya. la langsung menggebrak sikap-sikap yang rada negatif terhadap agama Batak. “Gondang, sebagai salah satu perangkat musik kemanusian, sebenarnya adalah netral dalam dirinya, tidak buruk dan tidak samasekali baik bagi agama. Kelasnya dapat disetarakan dengan gamelan Jawa atau musik tiup Jerman. Sebagai sarana musik yang netral, selalu dapat digunakan dengan baik atau disalah-gunakan. Tergantung tujuan dari pemakaiannya. Ada sesuatu yang sangat berharga dalam makna gondang Batak, juga bagi kekristenan, yakni jenis gondang-tortor yang disebut gondang mulatompa. Jenis gondang ini mengungkapkan makna kisah penciptaan aiam semesta dan manusia oleh Sang Khalik Mulajadi Nabolon. Keindahannya tertera dalam gondang yang disebut gondang mulamula. Gondang mulamula adalah ungkapan kisah bahwa Sang Khalik menjadikan alam semesta dan manusia pada Awal Mula Agung. Isi teologis penciptaan ini memasukkan paham creatio ex nihilo (penciptaan dari ketiadaan), kebenaran yang sangat pelik dan curam dalam metafisika Kristen, baik bagi teologi Barat, dan terutama bagi falsafah Timur. Tetapi teologi Batak tampil cukup gagah dan anggun mengenai kebenaran ini. Ini membuktikan keunggulan agama Batak di kalangan antropologi suku-suku di dunia. Ditambah dengan muat makna gondang kedua dari tujuh untaian, yakni gondang sombasomba, musik gendang sembah, sebenarnya, mutu serta kehadirannya sangat patut disyukuri dalam menghaturkan katekese dan liturgi. Sejatinya, setelah Mulajadi Nabolon, secara mahakuasa menciptakan alam semesta dan manusia, sebagaimana diungkapkan dalam gondang mulamula (gondang awal mula, genesis kosmos) maka pada gondang sombasomba, manusia dan segala makhluk diajak menyembah Sang Khalik secara takwa dan bakti, sebagaimana layaknya ciptaan di depan Pencipta. Kebenaran di sini tentulah sangat indah bagi kekristenan untuk menghantar kebenaran ajaran iman dan perayaan liturgi.

Bisa saja secara obyektif dan ilmiah hal itu benar, tetapi bagi telinga kebanyakan peserta, penganut Lutheran dan apalagi pentekostal, ungkapan ini tentu aneh dan merupakan halilintar di siang bolong. Entah disengaja oleh pengkhotbah menantang posisi teologis dari peserta ibadat atau tidak, entah karena khalayak kurang paham akan hal yang diutarakan, pendeknya pesan kurang menyampai dan belum dapat diterima.

Lebih menggugat lagi ialah penggunaan gaya tonggo (gaya doa tradisional Batak): pengkhotbah, yang adalah kristen dan uskup, berdoa seolah-olah ia adalah pengiman agama Batak tradisional. Dalam hal ini, tiga hal dapat disebut sebagai isu teologis yang disinggungnya. Pertama adalah mengenai sembah dan ibadat tertinggi Batak dalam korban horbobius. Dilukiskan sejenak apa itu korban horhobius. Kurban tertinggi, yang merupakan pemujaan terluhur dari Batak kepada Allah Tinggi nasional Batak, Mulajadi Nabolon. Sang pencipta ini diseru dalam gaya malim partonggo Batak asli, oleh pengkhotbah, yang Uskup Katolik: Hutonggo, hupio, hupangalualui ma Ho, ale Mulajadi Nabolon, na hinaporseaan ni Batak Sitompa langit dohot fano on, songon panghaporseaon Kristen di Debata Sitolusada, sitompa langit dohot tano. Disi porsea do hami holan sada do Debata na tutu jala na adong, umbahen sada do Mulajadi Nabolon dohot Debata Sitolusada ni Kristen, nang pe di panggoari dohot pangarajumion marlebanleban. Mauliate do rohanami siala pelean honbobius, dorbia horbo sitingko tanduk jala siopat pusoran. Na pinelehon di hau hangoluan Hariara Sundung Dilangit, jala na mandurushon mudarna gabe hatuaon tolu H (hagabeon, hamoraon dohot hasangapon) na pinarsinta ni hajolmaon. Horbobius ma na gabe tudosan patumona singkoram ni hahomion ni pelean ni Tuhannami Jesus Kristus, na pinelehon di hau hangoluan silang, na mandurushon mudar manesa dosa, huhut mangomo hatuaon ngolu hadumaon tano on, alai lumobi ma hatuan surgo sisalelengna. Ai molo mudar ni dorbia horbo margogo manesa dosa dohot paampehon hatuaon, lam beha ma mudar ni Debate manang Anak ni Debata, ndang lam tu rimpasna di parbue hatuaon di hami jolma. Ai ndang dorbia ia Jesus Kristus, gari ndang holan jolma, tung Anak ni Debata na sumurung jalan pargogo na so hatudosan do. Mariaia ma Ho ale Debata Mulajadi Nabolon, ai na pinatupa ni panogunoguon-Mu nunga sahat tu hagogok jala haririmpasna. Ai nunga disi landina disi landona, disi daina disi tabona, disi hinaulina disi ma hagogokna. Dilehon Jesus Kristus do muse pangapulon na so marsamari di hami jolma marhite haheheon-Na sian na mate. Ise do alealenta na so olo muba i; Aleale na sumurung i ma Tuhan Jesus i. Ai torop pe aleale, na di hasiangan on, saluhutna i mansadi, molo mate daging on. Martua ma Ho ale Mulajadi Nabolon, jala jalo ma maulate ni rohanami siala pangaradeon na mansai bagas jalan marimpola. Alai hot ma haporseaonnami di Jesus Kristus, Anak ni Debata, na gabe sipalua hami sian nasa dosa dohot hamatean. “

Aversi langsung timbul di hati kebanyakan peserta ibadat dengan latar belakang Protestan oleh sebutan Mulajadi Nabolon dan terutama pembentukan gaya doa kafir dalam seruannya. Bagi mereka hal itu termasuk sakrilegi, pengkhianatan kesetiaan kepada Allah Tritunggal kristen. Dan gaya ini, pemahaman yang tipis mengenai Mulajadi Nabolon serta kebaruan nuansa lebih meninggalkan kegamangan yang mengarah shok. Belum timbul apresiasi sampai di sini.

Tetapi tatkala mengulas kurban horbobius, ada beberapa orang yang merasa tertarik, termasuk praeses HKBP yang menjabat ketua BKAG. Bahwa terdapat persiapan kemiripan antara kurban horbobius dengan kurban salib, sekurang-kurangnya dalam bentuk lahir dikurbankan pada pohon kehidupan, dan keduanya sama-sama mencurahkan darah bagi sejahtera manusia, adalah baru dan rasanya menarik. Tetapi justru karena minimnya pemahaman mengenai mata kurban horbobius, mengenai apa itu bius, mengenai pohon kehidupan dan 3 H, maka semua masih merupakan enigma dan kegamangan.
Kiranya semua agak lega, tatkala dengan gigih dibela kepenuhan wahyu dan kedefinitifan penyelamatan lewat kurban Yesus Kristus. Tetapi halhal lain yang disinggung dalam hubungan dengan horbobius, dengan mengingat kecenderungan sikap negatif terhadap hal-hal agama dan budaya Batak, lebih meningalkan shok, kebaruan yang tak dengan gampang dapat dicerna. Bagi orang `yang berkehendak baik pun, kaki belum sanggup dilangkahkan melewati pintu. Terlalu banyak pertanyaan yang meninggalkan kegamangan, sehingga belum mampu memadu tekad untuk memasukinya.

Dan topik lain yang dinukilkan dari unsur baik budaya Batak ialah pemahaman mengenai ajaran pernikahan. Dengan gaya doanya, pengkhotbah berujar: “Ale Tuhan Mulajadi Nabolon, mauliate do rohanami tu Ho, ala nunga ditogutogu Ho bangso Batak tu pangantusion na hot di poda taringot tu pardongan saripeon. Ai didok do di bagasan umpasa: Si dangka ni arirang, arirang ni Pulo Batu; Na so tupa sirang naung ho saut di ahu; Na so tupa marimbang sai hot tondi di jabu. Hata ‘sohot’ tu anak tang naung marhot ripe, mangarbishon lapatan, di naung marrumatangga sahalak anak, mansohot ma ibana martandang dohot mangadangi boruboru. Hasangaponna do i ia hot ibana di jolo parsinondukna.
Laos marhite pangarajumion pardongan-saripeon monogami, eksogami jala hahoton ni parclongan-saripeon ro di na mate, na pinago ni umpasa ‘Sidangka ni arirang’, gabe ringkot be halak Batak podaan taringot tu impola ni poda ondeng. Ai nunga jumpang hian angka i di mudar ni Batak so marharoroan sian hakristenon. Ai molo di taon 1963, di Jawa Barat 67% sian pardongan-saripeon na gabe sirang siala poda talak, ianggo di Tano Batak ndang gok 1 % sian pardongan-saripeon na sirang. l do alana umbahen dihatahon Ephorus Nommensen: Lehet do poda ni adat Batak taringot tu ruhut pardongan-saripeon, ndang pola be sitambaan ni hakristenon taringot tusi. ‘Ala ni i ale Mulajadi Nabolon, jalo ma mauliate ni rohanami siala panogunoguon-Mu di impola ni poda pardongan-saripeon gabe dumolngos hami tu hakristenon. “Torop do nang ragam do pangalaho na uli diparade Debata Ama i di parugamaon ni Batak. Hombar tusi ma nang poda pardongansaripeon na manudu tu monogami na so tupa sirang saleleng ngolu dohot na so boi marpoligami. Godang angka hasintongan parugamaon, tarsongon pandokan taringot tu pangarajumion di Debata Sipanompa, Mulajadi Nabolon: Ompu Raja Mulamula, Ompu Raja Mulana; na ro sian si so marmula, ndang binoto nang ujungna; Ibana do manumpan sude na di lbana; lbana do mamungka, lbana do sahatna; Ibana do nampuna sude na tinompana; Ibana pasupasuna, lbana do hosana. On ma rumusan hakristenon na mandok: Ibana do Alfa dohot Omega; Ibana bona dohot ujungna; ibana do Hose dohot Sipalua. Angka on nunga disihathon Habatakon hian andorang so Hakristenon. Holan na ripe manalong nama Hakristenon di parbue dohot impolana. Mauliate ma rohanta, tu Debata nang tu Mulajadi Nabolon na patolhashonsa.
Alai na paduahon sian lapatan ni Ibadatta sadan on. Nunga sahat hita tu hagogok ni pangungkapon. Nunga sahat hita tu Pelean haluaon, i ma Jesus Kristus, Anak ni Debata. Disi, parpanailihonta dompak pudi, dompak adat Habatakon, nunga gabe holan panaili mandok mauliate sambing. Ndang na tau ulakan ni ngolunta dompak pudi. Holan marojakan jala marpanarian dompak Jesus Kristus nama hita. Ai baliga nahinan, baligahonon saonari; na pinarsinta nahinan, janghonon saonari. Ai dibagasan Jesus Kristus ma jumpang haririmpas ni sihol dohot tahi ni jolma taringot tu hatuaon ngolu tano on dohot ngolu sogot. Di Ibana ma landina dohot !andona; disi daina dohot tabona; disi hinaulina dohot jagona; disi ma haririmpasna dohot gokna. Hita halak Kristen, unang ma marpanghirimon dompak pudi, alai holan tu jolo ma dompak Jesus Kristus. Ibana ma panghirimonta di parungkilon tano on dohot taringot tu ngolu sogot. Gari hamatean nunga dipatalu disahei. Ingkon hehe hita sogot di ari parpudi.

Tentang poin ajaran mengenai ikatan pernikahan ini, hati para pendengar mencatat tiga nuansa. Tetap merupakan alasan shok bahwa dalam doa, Mulajadi Nabolon diseru sebagai Tuhan. Selain kebaruannya, juga kesangsian tradisi kristiani Batak mengenai kebenarannya masih mengkristal. Tetapi dalam hal argumentatif persamaan ajaran, tidak terdapat penolakan. Apalagi dengan memakai garansi pendirian Ephorus Nommensen, hati para kristen tidak mendapat sandungan. Terakhir ialah kegamangan apakah dalam soal yang satu ini, hati dapat menganut pemiripan ajaran Batak dan kekristenan mengenai ikatan pernikahan.

Poin paling kritis dalam singgungan mengenai agama tradisional adalah sebutan Namartua Pusuk Buhit, Apalagi gaya pengucapannya tetap berbentuk doa dan mengidentikkan Namartua Pusuk Buhit dengan Mulajadi Nabolon. Catatan pemahaman orang kristen Protesian, terutama gerakan Pentekosta, mengenai paham Na Martua Pusuk Buhit, mengandung tiga unsur. Pertama bahwa dewata Namartua Pusuk Buhit adalah benteng terakhir dari iman kekafiran Batak. Dari itu, ia merupakan musuh terakhir yang harus ditaklukkan.

Sebuah persekutuan pentekostal yang datang ambil-bagian dalam Pesta Paska Raya telah mempersiapkan dan membawa tiga salib besar untuk dipacakkan pada puncak Pusuk Buhit. Setahu bagaimana pengkhotbah tidak setuju: “Boleh ditancapkan pada kaki Pusuk Buhit, di sini, tetapi belum oportun langsung menanamnya pada pusat kepercayaan tradisional Batak” katanya

Segala tuduhan kekafiran kepada agama Batak tradisional ditumpukan kepada ketakutan akan Namartua Pusuk Buhit. Bahwa sampai sekarang, masih ada dari kalangan Batak tradisional membawa persembahan, misal kambing putih, sebagai pujaan kepada Namartua Pusuk Buhit, hal itu timbul karena masih bercokolnya lambang agama tradisional ini dalam bentuk sebuah gunung yang suci, Pusuk Buhit, puncak segala bukit, tempat misteri pertemuan dengan Sang Mahatinggi (bdk.: Fujiyama (Jepang); Vesuvius (Yunani); Mahameru (Himalaya); Semeru (Jawa)).
Dalam latar belakang seperti itulah, pengkhotbah berdoa kepada Namartua Pusuk Buhit. “Ale Namartua Pusuk Buhit, huboan hami do tuson pamingotan ni pelean ni Jesus Kristus, i ma hamamatena di hau pinarsilang dohot hahehon-Na. Sai manatap-manonggor ma Ho, sian tatuan hasangapon-Mu di ginjang-ni-ginjangan, di langit-ni-langitan, di pelean parsahataan ni Debata dohot jolma. Ai Debata Tuhannami Jesus Kristus alai hot na jolma Ibana. Ibana ma peleannami na rimpas jala na singkop. Baliga nahinan, baligahonon saonati; Na pinarsinta nahinan, jangkonon saonari. Ai na martua do bangso Batak naung dapotan pangaradeon di barita parheheon di taon na imbanu, siganup Mangase Taon, gabe ditompa Ho mulak hasiangan on muba gabe na imbaru, asa sinurma pinahan, gabe na niula, imbur magodang angka na ummetmet, saur matua natuatua; mardangka ma ubanna, limutlimuton tanggurungna; tumpakon ni Tuhanta Debatanta Namartua. Ai parbue na so marlaok bota do hami; rintar songon bonang di gala; manghirim asi na sian Mulajadi. Gabe dipasindak ma panaili, dipaulak hosa loja; laos ditudu ma di hami Jesus Kristus Pangalompoi. Ai na hehe do Ibana sian musu hamatean; ditaluhon do luhutna musu ni ngolu siboan jea. Ndang marnangon be arsak dohot ribo, nang sahit dohot sitaonon, ai nunga digotap sorop ni hamatean, marhite haheheon-Na. Marolopolop ma Ho, ale Namartua Pusuk Buhit, ai di parsorang ni ugamo na marharoroan sian Jesus Kristus, gabe sumurut ma sondang ni pangaradeon, ai nunga sorang na pinarbaga. Disi ma rimpas nang hagogokna, na gabe bonsir ni olopolop di hami parbiar tu angka begu. ‘Ai nunga talu hamatean dibahen Tuhan Jesus i.’

Analisis tanggapan peserta mengenai tonggo ini, sebagian, mungkin dari kalangan ‘karismatik’ berseru serta berdoa: “O Tuhan .Yesus”. Pengkhotbah seolah tidak peduli. Makna dari tanggapan doa spontan ini ialah kontras antara Allah Kristen dan Dewata Batak tradisional, yang mengkristal dalam Namartua Pusuk Buhit. Sementara, seorang datu Batak sangat tertarik dan mendekati mimbar khotbah.
Kontras ini sangat nyata, dan lainnya terkagum-kagum tak sempat bereaksi. Namun pada umumnya: Cara menyapa Allah Batak tradisional yang demikian terlalu shokkeren sehingga sangat menyiksa dan menjadi persoalan dalam hati. Masalah ini lama menjadi bahan pertanyaan/diskusi lanjut dari para peserta, yang belum mendapat jawaban yang pasti.

b. Sapaan Kesinambungan dan Kepenuhan dalam Kekristenan
Bagian kedua dari khotbah menyinggung persambungan ke dalam kekristenan.
Halak Kristen do hita na marpesta rea Paska na di inganan on. Ndang sipelebegu manang sisomba debata sileban. Tapahot ma dibagasan rohanta jala tapadanhon: Jesus Kristus do na tasomba jala taparmuliai. Haheheon-Na do na tapestahon di Pesta Rea Paska, pamingotan parmulak ni halak na mate tu hangoluan. Dibahen i do asa marlapatan rituale aek nabadia dohot lilin paska, na gabe pusok ni upacara di hita di Pesta Rea Paska Oikumene di Jambur Nabolak on.
Alai tabuhul ma dibagasan rohanta sidua bohi on. Parjolo-ma i pangarajumion pangaradeon na denggan na sian Habatakon na uli. Taenet ma tiruan ni horbobius, pelean parsadaan ni Batak marsomba tu Sipanompa na sasada i. Napinillit do horbobius, horbo sitingko tanduk, siopat pusoran. Na so marlindang na so tumanda boruboru, na polin laos na so habubukan. On ma diparade Habatakon gabe pelean na tumimbo. Laos diurasi do i, dipabongot tu bara na pinapulik holan tu Debata. Laos sian i ma ditogu tu borotan, hariara sundung di langit, hau hangoluan. Laos di hau hangoluan i ma dipelehon, ditiham mandurushon mudar. Mudar na polin laho manesa dosa, paisir hajahaton, laos paulak hosa loja. Hadumaon ni si 3 H (hagabeon, hamoraon, hasangapon) do na hinophopna. Hadumaon tu ganda ni pansarian, pansamotan, sahat tu hatuaon hajolmaon do na tinonggona. Gabe mulak girigir ma ngolu ni jolma.
Alai mamereng ma hita tu Jesus Kristus. Anak ni Debata do Ibana, anak ni Panompa na sumurung i. Naung gabe jolma do Ibana. Dibagasan diri-Na do jumpang kodrat ni Debata dohot kodrat ni hajolmaon. Debata na tutu jala jolma na tutu do ibana. Jolma-Debata Jesus Kristus ma na pinelehon di hau hangoluan i ma hau pinarsilang. Durus mudar-Na manesa dosanta. Durus mudar-Na gabe Sipartobus di hita jolma. Durus mudar-Na pataluhon hamatean. Durus mudar-Na gabe pangapulon na so marsamari di hita jolma: gabe ingkon hehe hita; gabe ingkon anak panean di Harajaon ni Debata, manjanghon surgo hasonangan.
Disi ingkon mangkuling ma dibagasan rohanta. Mansai uli ma pangaradeon ni Debata di bangso Batak. Dipatupa sada pelean na ias jala na polin, sidurushon mudar manghophop ngolu ni jolma, Memang, ndang rimpas lapatan dohot panggoarina. Alai holang salangka do hita mangalaos laho mangain pelean durus ni mudar laho mangampu hahomion ni Debata. Disi ingkon sidok mauliate ma hita tu pangalaho dohot pangantusion ni Ompu Sijolojolo tubu. Ulina i pangaradeon i. Jala ndang di balian ni asi dohot holong ni Debata pala jumpang i di tongatonga ni Batak. Tung asi-Na na so marpabolatan do na paturehonsa.
Ala ni i, rap dohot Ompu Sijolojolo Tubu, nang tu Mulajadi Nabolon, sisada hata ma hita, si sada panggoari: Mauliate ma Tuhan di pangaradeonMu di pangulahon ni ompunami Batak. Mauliate ma siala hapolinon dohot habadiaon ni pelean, pala rimpas di tudu-tudu na dompak tu Jesus Kristus.

Analisis pemahaman dan penerimaan hadirin, mengenai isi bagian kedua dari khotbah ini, rasanya dapat diungkapkan sbb. Terdapat tiga jenis tanggapan.
Pertama, pada umumnya, penerimaan peneguhan kepenuhan dan definitivitas penebusan oleh Jesus Kristus dapat diterima dengan baik dan terbuka. Tentang hal yang satu ini tidak ada masalah.
Kedua ialah jenis temuan pengalaman aha erlebnis, bahwa, seperti diungkapkan oleh Praeses HKBP, terdapat temuan baru yang menggembirakan mengenai hal baik pada tradisi agama Batak, khususnya persamaan persiapan kurban salib Yesus Kristus dalam horbobius. Hal ini cukup indah tetapi belum pernah diungkapkan selama ini: Bahkan tidak pernah menjadi informasi bagi para pendeta dan pastor. Padahal isinya sangat menjanjikan dalam mengabadikan kebenaran penebusan Yesus Kristus. Hal ini pantas menjadi upaya pendalaman di masa depan.
Ketiga agak bersifat negatif. Justru karena belum pernah, pembandingan horbobius dengan kurban Yesus Kristus masih dianggap aneh. Yesus Kristus adalah sekian unik dan ilahi, sehingga pantang untuk dibandingbandingkan dengan peranan sejenis. Aversi dalam hal ini cukup mengkristal sehinga, bagi sebagian penganut Kekristenan ekstrim, masih dianggap skandal dan sakrilegi. Adalah dosa membanding-bandingkan Yesus Kristus dengan kurban lain, apalagi dengan kurban binatang. Hal ini masih bersifat priker dan kalut bagi iman kristiani.

c. Sapaan Tanggungjawab Misi Pembangunan
Bagian ketiga dari khotbah adalah mengenai aplikasi modernisasi misi kristiani. Kita telah menerima dengan penuh iman akan Yesus Kristus. Kita pengapakan tugas iman ini pada kenyataan program pembangunan Kabupaten Samosir. Kebetulan Kabupaten ini telah menetapkan pariwisata sebagai primadonna program pembangunannya. Pertanyaan yang sangat luas dan berjangkauan jauh telah menjadi pembahasan dalam persiapan Pesta Paska Raya. Pemkab Samosir mengharapkan bahwa even Paska bersama ini menjadi kristalisasi dan bagian akselerasi pembangunan, yang berbasis pariwisata. Sedangkan mengenai jenis pariwisata masih diperdebatkan, antara pariwisata daya tarik judi dan prostitusi dengan pariwisata lembut kultural, sebagaimana dianut oleh Pemda Bali. Keadaan ini menjadi sejenis ‘pertaruhan’ bagi benak Pemkab Samosir, antara to be or not to be.
Mengenai harapan ini, pengkhotbah memilih garis dukungan kepada Pemkab Samosir. Telaah pemihakannya memberi beberapa distingsi dan pendasaran.

Bagas do tona dohot rahutrahut ni pesta rea Paska on tu sangkap ni Pemkab Samosir laho mambangun Pulo Samosir gabe sada kabupaten modern jala na marhadumaon. Jala nunga hot tahi ni Pamarenta mamillit pariwisata gabe primadonna ni pembangunanna. Dia ma nangkatna, dia nangkokna; dia hatana, dia nidokna, di pesta rea Paska on, tu tona modernisasi dohot pembangunan ni Pulo Samosir.
Sada ondolan teologis ni haporsean kristen, tarsurat do di Buku Musa l.-28.- ‘Patunduk jala rajai hamu ma liat portibi on!’ Patundukhon lapatanna pauba portibi dohot tano on bahen dalan hadumaon dohot martabat na marsangap tu jolma. Marhite pandokan on, martohonan do ganup halak kristen manumpaki jala mandukung program ni Pemkab Samosir taringot tu pembangunan. Marutang ma ganup halak kristen tu haporseaonna molo so ditumpaki nasa tahi dohot program pembangunan na uli tu hajolmaon.
Taringot tu program primodona pariwisata, ingkon sitodoon do soft tourism, jala sipasidingon do hard tourism. Na ginoaran soft tourism i ma na pamajuhon pariwisata marhite enterteinmen budaya dohot nilai na uli di hajolmaon. Sipajoloon disi i ma arta ni budaya Batak, tar songon gondang, adat habisukon na uli di Habatakon. Hombar tusi muse, i ma pandasdason tu hajolmaon na maduma jala na uli, na boi tiruon jala jangkonon ni adat mancanegara. Jadi situmpakan ni haporseaon hakristenon do nasa gerakan enterteinmen budaya, pagelaran kultural Batak. Alai andorang so mangalangka dompak i, amang Bupati, jumolo ingkon dipature dalan na tama boluson ni angka pelancong domestik dohot mancanegara. Intap ni saonari, tung rongking dope dalan sian Tele laho boluson. Gari mabiar iba disi betak madabu. Baru pe dungkon ni i, ingkon pilliton ma titik-titik pusat loka parawisata. Tarsongon Jambur Nabolak on sipujion do pamillitonna gabe sada pilot project parheheon pengembangan tu na lumambas. Adong ma disi pangarohaion taringot tu pusat-pusat rekreasi pariwisata. Intap ni saonari gabe musibah dope di hita genjer enceng gondok. Jala tama ma aturon inganan ni angka pardengkean karamba na sai sungka di pamerengon ni angka turis. Jala unang lupa mambahen landreform Samosir, asa unang pagodanghu lahan tidur. Penghijauan pe, lumobi manuan hau di bibir ni sunge dohot angka inganan na pinapulik gabe inti kehutanan naeng ma radotanta. Roha ni Pemkab Samosir naeng ma jumolo dipatoho dompak upaya penyejahteraan rakyat, patoruhon garis kemiskinan asa lam tumorop angka na maduma.
Angka na ginoaran ondeng, naeng ma gabe ulu bona ni pangarohaion ni Pamarentanta. Jala di ganup haporseaon kristen, angka on ma na gabe tupa ni pangulahonna di poda na parjolo na sian Tuhan i: Haholongi ma donganmu jolma doshon dirim! Marutang ma hita jala marsala, molo so adong roha panghophopon taringot tusi.
Sada sitaringotan na gabe ondolanna. Ingkon adong roha dohot program ni Pamarenta tu pembangunan agama di Samosir. Sada sahit na pabidinghon roha ni jolma sian hadumaon na tutu, sian impola ni hatuaon, i ma pangalaho na papudihon angka nilai dohot parbue ni ngolu parugamaon. Laho mandasdasi i, sitariashonon do, di jolo ni angka parlosok marugama manang marminggu: Pangulahon parjolo sian Si Raja Batak – jala hita sude i ma pinomparna na bangga manggoari dirina halak Batak – i ma martangiang tu Pusuk Buhit marsomba tu Debatana, Mulajadi Nabolon. Dipajongjong do disi ‘langgatan sitolu sagi’; ‘parhuraja sitolu suhu, sitolu harajaon.’ Jadi, molo na giot dope hita digoari turunan ni Si Raja Batak, tapahinsa ma parugamaonta.
Molo boti, satolop ma hita mambuhul padan: Halak kristen na tutu do hita. Ndang sipelebegu hita. Pangulahonta pe, marbonsir sian pesta rea Paska on, naeng ma hombar tu hakristenon. Hehe ma hamu, marsinondang ma hamu, jala martua ma hamu di tano na nilehon ni Tuhan Debata tu hamu. Amen.

Tanggapan dan sambutan khalayak mengenai isi khotbah bagian ketiga ini mungkin dapat dijabarkan, sbb.:
Pertama adalah sikap sangat positif dan langsung mengampu untuk dilaksanakan. Hal ini menjadi ungkapan Prof. Parhusip, yang meneteskan air mata, dalam berikrar: “Banyak negara telah kujalani; banyak dari mereka ingin menahan aku berbakti di sana. Tetapi aku telah berikrar bahwa aku harus kembali dan berbakti di Pulo Samosir, Sambulo hatubuan jala haholonganhu. Aku ingin agar dibangun di tempat ini rumah doa kalau mungkin bertaraf intemasional. Dan aku ingin berbakti untuk itu.” Hampir semua khalayak hanyut dalam alunan ungkapan itu.

Tetapi terdapat juga bagian yang cukup besar, terutama penduduk setempat, yang masih tergolong kelompok ‘kegamangan kebaruan’. Belum pernah mengalaminya, dan masing-masing mempunyai gambaran sendiri mengenai pariwisata, sehingga masih harap-harap cemas. Dan sebagaimana setiap kebaruan pertama menimbulkan ‘kecemasan’, maka demikianlah kebanyakan khalayak masih merasa ragu dan kurang pasti.

d. Kesimpulan Tanggapan mengenai Khotbah
Demikian sekilas pemaparan dan analisis tanggapan pendengar khotbah pada peristiwa historis paqa Pesta Oikumene Paska Raya di Sijambur Nabolak, tgl. 9 April 2007. Gemanya menggetarkan dan memukau hati pesertanya sampai ke tingkat nasional. Suatu kenangan indah, ajaib dan historis, yang memberi janji yang baik buat masa depan.
Di sini tidak disertakan analisis tanggapan terhadap bagian berikut, yang mungkin dapat disebut ‘enterteinmen rohani’ yang berupa pagelaran nyanyian rohani yang sangat memukau, dan diselingi oleh ‘fragmen’ rohani yang terkadang mengagumkan tetapi sering menggelitik.
Mengenai bagian sampai khotbah, yang dihadiri oleh penulis, rasanya dapat disimpulkan. Bagian pertama dari khotbah masih bersifat problematis apalagi sukar ditangkap oleh paham kekristenan sediakala. Lebih banyak pertanyaan daripada tanggapan.
Bagian kedua dari khotbah, sapaan kesinambungan dan kepenuhan Kekristenan, pada umumnya tidak dipermasalahkan, sebagaimana menjadi kenyataan bagi bagian pertama. Namun, karena kebaruan, orang masih gamang dan hanya sebagian merasa kagum.
Bagian ketiga, sapaan tanggungjawab misi pembangunan, rasanya beroleh tanggapan penerimaan dan apresiasi, yang jauh mengatasi kegamangan kebaruan. Hal itu terbukti dari ikrar-ikrar positif yang disampaikan sebagai tanggapan atasnya.

Catatan kaki tentang Pusuk Buhit klik disini
Photo Pusuk Buhit klik disini

Selanjutnya bagian II dari tulisan ini PERANGKAT PERTANGGUNGJAWABAN MISIOLOGI. tidak kami muat dengan pertimbangan halaman Bila ingin mendapatkannya silahkan hubungi Keuskupan Agung Medan Jl Imam Bonjol 39 Medan e-mail : sekret39.ib.kam@telkomnet.com dan sekrkam@hotmail.com

4 Komentar leave one →
  1. Esther permalink
    4 Februari, 2008 1:56 pm

    Meminjam istilah di atas “kegamangan kebaruan”, Yesus di awal kemunculannya nya pun menimbulkan kontroversi, penolakan, dan kegamangan, bukan… Tidak apa lah, ini kan suatu cara untuk menggugah orang-orang agar mencoba menyimak dan merenungkan hal seperti ini. Proses awal merenung-renung itu kan juga salah satu proses berpikir yg kritis. Jadi, pengukuhan iman seseorang pun bisa lewat penemuan dari proses pencariannya sendiri, atau berawal dari rasa SHOCKED, terusik, mulai merenung-renung, mempertanyakan/meragukan kebenaran, berpikir, mendapat pencerahan, dan atau-atau lainnya.

    Bermacam-macam cara.

    Perkara iman, biarkan bebas saja. Tafsir teologis pun biarkan beragam. Cocok tidak nya, tergantung pengalaman iman dan hidup setiap orang (setelah dewasa).

    Betul tidak ya,

    Tulisan/analisis kotbah ini disajikan dengan gaya penyampaian yg menarik. Jadi, saya juga setia membaca sampai selesai.

    Mauliate😉

  2. regen permalink
    14 Mei, 2008 7:06 pm

    urgent….minta tolong dijelaskan tentang metafisika ulos…..mauliate

  3. vincensius sihombing permalink
    7 Januari, 2012 1:22 am

    kotbah/naskh ini tlh mnguatkan kekbatakn-kekritenan kiat yg tdk jrg canggung atau gamang bahkan beroposisi dgn kebatakn. smga smkin byk org batak-kristen yg mdalaminya. salam

Trackbacks

  1. NAMARTUA PUSUK BUHIT «

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: