Skip to content

GELITIK KOTBAH MGR DR AB SINAGA

12 Agustus, 2007

Sekapur Sirih
Tentang Makna Penyejahteraan Paskah Raya, Terobosan Penghayatan Misi Kristen Baru oleh Mgr. DR. Anicetus B. Sinaga OFM Cap. di Sijambur Nabolak Senin, Paska II 9 April 2007 Pangururan Samosir.

Oleh : R.E.A SIBORO

Saya adalah salah seorang diantara ribuan orang yang hadir pada perayaan paskah oikumene di Sianjur Nabolak pada bulan April 2007 yang baru lalu. Dengan tekun saya ikuti khotbah Mgr. A.B Sinaga yang kali itu lebih banyak mengkhotbahkan iman tradisional atau perjanjian lamanya masyarakat Batak dikaitkan dengan iman kristiani. Untuk saya, khotbah itu cukup baik dan menarik. Tetapi terselip juga kekhawatiran bahwa dari yang hadir ini, jangan-jangan salah memahami isi khotbah yang beliau sampaikan. Kekhawatiran itu semakin menguat karena saya dengar ada celetukan dari antara yang hadir, cukup vulgar ; “Ini aliran sesat, masak seorang pemimpin gereja ikut-ikutan menyembah….. Pusuk Buhit”, kata seseorang yang duduk tidak terlalu jauh dari saya. Sms pun bermasukan menyampaikan bermacam-macam pertanyaan dan pernyataan atas apa yang dikotbahkan Mgr. Tetapi sebaliknya pula ada juga yang mengagumi isi khotbah itu. Pokoknya khotbah Mgr kali ini cukup kontroversial, menyisakan perdebatan yang berkepanjangan. Sebaliknya kontroversi lain juga terjadi ketika Jack Marpaung penyanyi kelompok ARBAB dengan semangat menyanyikan lagu lagu pop rohani seraya menyelipkan kalimat yang ditangkap audiens seolah olah meniadakan kesakralan Gunung itu. Bagi sebahagian orang sangat bertentangan, juga menuai protes. Pokoknya selama satu hari satu malam rangkaian paskah oikumene itu, sekelompok orang pada satu sisi tidak lepas dari sikap mengamini dan pada sisi lain muncul sikap yang meniadakan kesakralannya.

Ada apa dengan Pusuk Buhit? Kok hebat benar ! Pusuk Buhit adalah sebuah gunung dengan ketinggian 2008 m diatas permukaan laut bertengger di bagian Barat Kabupaten Samosir. Gunung tertinggi di kawasan Danau Toba yang secara vulkanologi disebut gunung merapi tidak aktif karena magma panasnya mengalirkan air panas yang disebut aek rangat, tempat pemandian yang dipercaya oleh sebahagian orang bisa mengobati berbagai penyakit. Gunung itu memang sangat phenomenal, indah untuk pertamasyaan dan dianggap suci. Banyak yang suka mendakinya untuk bertamasya dan kalau sudah tiba di puncak, suasana batin seperti sangat dekat dengan Tuhan (Mulajadi Nabolon) sehingga kita tidak berani bicara kotor, jorok dan semacamnya, harus sopan, hormat (marsantabi) dan bersikap tawakal. Tua muda kaya miskin rohaniwan atau jemaat, terpelajar atau tidak, semua bersikap seperti itu. Tidak jarang, dan pernah saya saksikan sendiri seorang penganut agama Kristen, cerdik pandai dan bukan orang pedesaan, manakala lewat dengan kendaraan mobil di kaki gunung itu, tidak tega melewatinya tanpa komat kamit sambil memandang puncaknya sebagai tanda permisi (marsantabi).
Misterius benar memang!!. Menurut lagenda yang ceriteranya telah turun temurun, jauh sebelum agama Kristen dan Islam dianut masyarakat Batak khususnya di Samosir , Pusuk Buhit adalah tempat turunnya Si Raja Batak dari kayangan. Lalu tempat itu dijadikan sebagai lakasi menyembah Mulajadi Nabolon (Tuhan maha pencipta). Da kaki gunung itu terdapat desa (huta) Sianjur Mula-Mula sebagai tempat tinggalnya si Raja Batak. Segala macam mitos menyertainya sehingga kesuciannya semakin kental. Tidak jarang bahwa kalau ada orang kesurupan dari Pusuk Buhit, menyebut dirinya penjelmaan utusan Mulajadi Nabolon (surusuruan=malaekat), paling tidak penjelmaan dari neneknya yang sudah almarhum yang dianggap orang suci. Para anggota keluarga turunannya, semacam jematnya begitu, acapkali menggunakan momen itu untuk meminta petunjuk tentang masa depan atau ramalan yang kadangkala beritanya mendebarkan karena tidak semua ramalan itu suatu berita yang menggembirakan. Roh itu juga tidak sembarangan datang. Biasanya gondang saborngin (semalam) minimal harus dipalu baru ia datang (sorop) atau hinggap melalui hasandaran (orang perantara). Lebih sakral lagi kalau diiringi gondang panduduon (gendang semalam suntuk dalam suasana getap, lampu-lampu dipadamkan).
Ramalan kehidupan bisa diketahui dari pargonsi (pemukul gendang), bisa dari gerak gerik kerbau yang diikat pada tiang halaman pesta gondang. Ramalan ramalannyapun banyak pula yang tepat. Pokoknya tidak kalah dengan ramalan para jago ramal kontemporal sakarang. Maka paham tentang Allah yang maha kuasa, Roh kudus, orang suci, reinkarnasi dan kenabian secara filsafat ada pada kepercayaan orang Batak semenjak dahulu kala. Paling tidak untuk sebahagian orang di Samosir masih menjadi keyakinan ganda berbarengan dengan kepercayaan kekristenan yang dianut sekarang.
Sebahagian masyarakat telah mencoba melepaskan keyakinan itu karena dianggap haram menurut kekristenan yang di pahaminya. Segala yang namanya budaya parmalimon tidak pantas lagi dipergunakan dan harus dikubur dalam dalam. Hal itu bertentangan dengan Injil yang dipahaminya. Demikianlah polarisasi kepercayaan yang masih eksis di kalangan masyarakat Samosir dulu sampai sekarang juga. Nama gunung itu juga tidak diketahui dibuat oleh siapa dan kapan.
Yang pasti ketika diadakan acara peresmian tangga seribu satu di Pemandian Aek Rangat medio 2007 yang lalu, dua orang pakar asal Samosir yaitu Dr Benny Pasaribu dan Dr Muchtar Pakpahan mengusulkan penggantian nama Pusuk Buhit menjadi Pusok Buhit juga mengundang perdebatan di berbegai tempat, apakah di kedai kopi, tempat billiard, restoran, di kapal, di ferry. Pada umumnya sependapat menolak perobahan nama itu. “Nama itu tidak bisa dirubah sembarangan” kata mereka. Gunung Sinai saja tidak seperti itu, pikirku. Dan memang, Gunung Sinai diyakini hanya sebagai tempat Nabi Musa menerima Hukum Taurat tetapi Gunung Pusuk Buhit bagi keyakinan orang Batak dahulu kala setara dengan Gunung Sinai dan Taman Eden yaitu bukan saja sebagai tempat penciptaan orang Batak tetapi juga sebagai sumber ajaran kebaikan, kebenaran dan keadilan. Dan yang terpenting lagi, dari sana tidak pernah dikenal apa yang disebut “Black magic”. Maka suasana paskah ketika itu berpusat dalam memposisikan Pusuk Buhit dalam kepercayaan kuno dengan kekistrenan pada zaman modern sekarang.
Berselang beberapa lama kemudian dalam suatu percakapan dengan Mgr, saya sampaikan tanggapan pro kontra atas khotbah itu. Yang Mulia Uskup-pun sesungguhnya bermaksud untuk menjernihkannya tetapi menjadi kontroversi yang sangat jauh.
Walaupun saya sadari bahwa yang namanya khotbah adalah otoritas beliau yang tidak layak untuk diperdebatkan. Ini adalah paham yang secara umum dianut seorang Katolik. Saya beranikan menyampaikannya kepada Mgr tentang apa yang berkembang sesudahnya. Secara gentel Mgr A.B Sinaga memaklumi pendapatpendapat itu dan beliau sama sekali tidak terkejut dengan itu. Karena beliau pun paham betul dengan nilai nilai budaya yang masih kental di kalangan masyarakat Samosir.
Selain karena beliau seorang Gembala Umat yang pasti paham mengenai kekristenan juga sekaligus pula sebagai ahli budaya. Ketika itu beliau berjanji pada suatu saat akan merajut kembali makna khotbah itu. Saya pikir janji itu terbukti sekarang melalui tulisan yang bagi saya pribadi cukup mendasar, filosofis, teologis dan tentu menarik untuk dipahami. Kendatipun tugas mempersamakan pemahaman itu tidak gampang karena polarisasi keyakinan yang sudah mengakar diantara berbagai penganut sekte yang nota bene sama-sama mengaku umat Kristiani maupun diantara berbagai penghayat kebudayaan Batak.
Masyarakat Batak, khususnya di Samosir terkenal sangat kental akar budayanya, mengaku Kristiani tetapi masih percaya dengan pardukunan. Cultural Batak yang diadopsi gereja tidak jarang mengalahkan nilai-nilai kristiani dari gereja itu sendiri. Kasih sesama dengan mudah dikalahkan kortflik budaya semarga. Cinta akan budaya sangat kental dan ada kalanya melebihi agama. Tidak ke gereja merasa tidak apa-apa tetapi tidak menghadiri upacara adat dianggap kesalahan atau dosa yang tidak terampuni. Walaupun dalam budaya yang telah mengakar itu cukup kaya dengan nilai nilai yang memperkaya nilai-nilai kristiani seperti paham kebenaran, kebaikan, kejujuran dan keadilan namun kerap terjadi hal sebaliknya Maka upaya Uskup untuk menerbitkan tulisan ini sangat ditunggu khalayak dan lebih dari pantas untuk diberi applaus. Beliau yang menyulut bara itu dan beliau pula yang mendinginkannya, setelah proses pembulatan tentunya. Itulah saya kira makna yang terkandung dalam tulisan ini.

Semoga bermanfaat.

Salam,
R.E.A. Siboro

One Comment leave one →
  1. vincensius sihombing permalink
    7 Januari, 2012 1:18 am

    sikap/respons jemaat hadirin bs dimaklumi. mdhn2 merk tdk hy komentar2, tp mau mdalami. smg dgn dmkian kita dpt mmhami akna trdalam. salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: