Skip to content

Menipisnya Kepekaan Sosial

21 April, 2007

Penulis: Limantina Sihaloho

Dunia gelisah dan gempar akibat tindakan brutal Cho Seng-Hui, mahasiswa berusia 23 tahun, yang pada hari Senin, 16 April 2007 pagi yang lalu menembaki rekan-rekan dan dosennya di Virginia Tech. 32 orang tewas dalam tragedi itu ditambah dirinya sendiri.

Hati bagai teriris pisau tajam. Bulu roma merinding. Siapapun ternyata dapat menjadi korban dari tindakan brutal orang lain yang semakin mudah dilakukan belakangan ini, kapan dan di mana saja. Duka tak terucapkan menggenangi hati terutama orang tua, teman, anak, suami/istri dari para korban. Duka melanda bangsa-bangsa, tidak hanya Amerika. Sebagian korban yang meninggal juga berasal dari luar Amerika. Partahi Mamora Halomoan Lumbantoruan, mahasiswa tingkat doktoral dari Indonesia menjadi salah satu korban dari tragedi yang seharusnya tak perlu terjadi itu.

Tak ada lagi rasa nyaman. Sebagian besar manusia telah menjadi kebas. Mati rasa. Tindakan brutal datang silih berganti. Ledakan bom, penembakan dan pembunuhan melanda hampir setiap negara, entah kaya atau miskin. Baru saja anak-anak remaja melakukan tindakan brutal di Inggris sebelum Cho. Civitas akademis di universitas di Amerika, setelah peristiwa Senin lalu, juga dilanda ketakutan. Ancaman-ancaman peledakan datang menyusul setelah tindakan Cho yang membuat polisi kalang kabut. Dua anggota parlemen di Taiwan dikecam publik karena mengatakan ada ancaman di sebuah universitas negeri di sana . Rupanya, kedua anggota parlemen itu hanya hendak menguji kesigapan aparat keamanan dalam merespon sebuah situasi darurat.

Mengapa lembaga pendidikan seperti universitas menjadi sasaran tindakan brutal? Apapun alasan Cho Seung-Hui, tindakannya yang mematikan sesamanya itu sama sekali tidak dapat dibenarkan. Dalam paket rekaman yang dikirimkannya kepada NBC, setelah penembakan pertama yang dia lakukan, Cho mengatakan: “You have vandalized my heart, raped my soul and torched my conscience. You thought it was one pathetic boy’s life you were extinguishing. Thanks to you, I die like Jesus Christ, to inspire generations of the weak and the defenseless people.”

Helen O’Neill, wartawati Assosiate Press mengatakan bahwa Cho nampaknya adalah orang yang tak memiliki apapun sebab dalam lanjutan pernyataannya dalam rekaman yang dia buat sendiri itu, dia mengatakan: “Your Mercedes wasn’t enough, you brats. Your golden necklaces weren’t enough you snobs. Your trust funds wasn’t enough. Your vodka and cognac wasn’t enough. All your debaucheries weren’t enough. Those weren’t enough to fulfill your hedonistic needs. You had everything.” Cho Seung-Hui dapat kuliah sampai tingkat akhir di Virginia Tech, mana mungkin dia tak memiliki apapun sebagaimana diperkirakan oleh Helen O’Neill? Mungkin dia tidak sekaya kebanyakan kawan-kawannya di sana tetapi toh dia dapat menikmati perkuliahan di sebuah universitas di negara seperti Amerika.

Kita semakin dilanda rasa waswas

Kita dilanda rasa waswas. Kampus dan ruang-ruang belajar ternyata juga tidak luput dari sasaran kebrutalan. Apa yang barusan terjadi di Virginia Tech dan publikasi besar-besaran yang dilakukan oleh media massa atas peristiwa itu justru menambah rasa kuatir publik global sebab tindakan brutal semacam itu justru dapat memberi contoh buruk bagi kelompok-kelompok tertentu. Cho mengatakan bahwa dia memilih tindakan brutalnya dan berpikir bahwa dia mati seperti Yesus. Cho salah mengerti. Yesus sama sekali tidak memilih tindakan brutal dalam melawan, justru Yesus memilih dan melakukan tindakan nirkekerasan yang menjadi salah satu inspirasi bagi orang seperti M. Gandhi. Di sini kita lihat, bagaimana orang membenarkan tindakannya dengan memanipulasi ajaran agama(nya).

Yang menjadi sorotan utama dalam beberapa hari ini adalah Cho yang penyendiri, menderita gangguan jiwa dan a-sosial, sebagaimana diungkapkan oleh rekan-rekan mahasiswa dan dosen-dosennya di Virginia Tech. Di samping, kecaman terhadap pengelola universitas mengapa memperbolehkan Cho belajar di sana padahal mereka sudah tahu bahwa Cho menjalani terapi psikologis dua tahun yang lalu dan pernah berurusan dengan polisi. Pembahasan akan sumber depressi yang dia alami entah itu dari dalam dirinya sendiri atau mungkin juga keluarganya dan lingkungannya termasuk Virginia Tech kurang mendapat perhatian.

Publik global terkejut dan nampaknya menjadi lebih sadar setelah dikagetkan oleh tindakan brutal Cho bahwa apapun yang dilakukan oleh orang lain, entah itu buruk atau baik, mempunyai pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap diri kita sebagai pribadi, kelompok maupun bangsa. Cho telah mencoreng nama bangsa dan negaranya di hadapan dunia. Rekan-rekannya yang berasal dari Korea Selatan dan juga Asia mengalami depressi dan ketakutan tertentu akibat tindakannya.

Menipisnya kepekaan sosial di lembaga pendidikan

Kampus dan lembaga pendidikan seringkali menjadi sebuah dunia kecil di dalam sebuah negara. Di dunia kecil ini berkumpul orang-orang pilihan yang pada umumnya berasal dari kelas menengah dan atas. Ditambah sedikit orang dari kelas bawah yang mampu bersaing masuk ke perguruan tinggi yang sebagian nampaknya mungkin tak sanggup menyaksikan tingkah laku rekan-rekannya yang pamer harta kekayaan dan hedonisme sebagai disaksikan oleh Cho yang menjadikannya sebagai salah satu alasan pembenaran terhadap tindakannya.

Tingkah laku kalangan civitas di lembaga-lembaga pendidikan terutama sebagian besar para mahasiswa dan juga dosen yang mengalami penumpulan kepekaan sosial justru dapat menjadi bumerang bagi diri mereka sendiri. Kita dapat menyaksikan anak-anak pejabat dan orang kaya datang ke kampus dengan mobil-mobil mewah mereka (yang bisa saja hasil korupsi orang tua?) baik di Amerika maupun Indonesia atau negara-negara lainnya. Bagi kelompok ini, naik mobil mewah dan memakai alat-alat mutakhir yang harganya mahal adalah hal yang wajar-wajar saja. Karena menganggabnya sebagai hal yang wajar saja, mereka menjadi cenderung tidak sensitif terhadap orang-orang di sekelilingnya yang sedang membaca apa yang mereka pertontonkan.

Kalau benar salah satu alasan Cho melakukan penembakan itu karena kecewa terhadap tingkah laku para mahasiswa di lingkungan kampusnya, itu berarti para mahasiswa yang pamer kekayaan dan hedonisme itu sebagaimana dinyatakan Cho, telah juga turut menjerumuskan Cho ke dalam tindakan brutalnya walaupun, sekali lagi, Cho tak punya hak untuk menghilangkan nyawa sesamanya dengan tindakan yang dia lakukan itu. Tindakan Cho juga dipengaruhi oleh lingkungannya dan sebaliknya tindakannya yang brutal itu pun telah mempengaruhi kita semua

Kita semua perlu menjadi lebih bijak dan cerdas dalam memilih setiap tindakan yang akan kita lakukan sebab setiap pilihan tindakan kita mempengaruhi orang-orang di sekitar kita, dekat maupun jauh. Dalam situasi di mana dunia semakin dilanda ketidakpastian, kemiskinan bahkan kelaparan tidaklah bijak kalau orang malah mempertontonkan kekayaan dan hedonismenya yang dapat mengundang bahaya bagi dirinya sendiri dan sesamanya. Kepekaan dan kecerdasan sosial menjadi salah satu hal yang mutlak kita perlukan saat ini. ***

One Comment leave one →
  1. 24 Juli, 2009 5:45 pm

    very nice to blogs

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: