Skip to content

PARADIGMA BARU PT. TPL DIGUGAT

20 April, 2007

Penulis :Halomoan Butar butar

PT. Indorayon, Utama (IIU) atau yang sekarang PT. TPL (Toba PULP Lestari) yang di tuding Maasyarakat selama ini sebagai biang keladi perusak lingkungan hidup ternyata benar. Hal tersebut diungkapakan oleh Sogar Manurung pengurus LSM Suara Rakyat Tobasa (SURTA). Menurut dia perjuangan masyarakat dimotori oleh Suara Rakyat Bersama (SRB) untuk menentang keberadaan PT. TPL telah berhasil, dimana Perusahaan penghasil bubur kertas (Pulp) pernah ditutup Pemerintah selama 4 tahun. Gerakan yang dilakukan SRB selam ini adalah Murni tanpa ditunggangi, dengan hanya satu tujuan untuk kelestarian lingkungan hidup yang akan diwariskan kelak keanak cucu bangsa Indonesia. Harta benda, penyiiksaan, darah maupun nyawa, telah melayang untuk memperjuangkan penghentian pengrusakan lingkungan itu.

Namun sampai saat ini, proses hukum atas tindakan dari oknum aparat hukum yang dipergunakan PT. TPL tidak pernah terlaksana. Mereka seakan tidak tersentuh. Hanya dengan alasan investasi asing dan kepercayaan dunia usaha luar Negeri terhadap Indonesia, pemerintah tetap mempertahankan industri perusak lingkungan tersebut,

Akibat tuntutan rakyat, pemerintah waktu itu terpaksa menutup salah satu pabrik yang paling berbahaya terhadap keselamatan, yaitu pabrik Rayon.

Sogar Manurung, salah seorang aktivitis lingkungan hidup, yang dulu pernah dipenjarakan akibat menentang keberadaan PT. IIU ( TPL). Saat ini Sogar masih tetap kritis. Pengakuan Sogar Manurung yang juga mantan ketua Harian SRB itu, PT. TPL hanya untuk mengelabui masyarakat, dengan pergantian nama dari PT IIU. Sampai sekarang PT. TPL dengan janji paradigma baru hanya omong kosong.

Menurut pengamatan LSM SURTA baru-baru ini. Pada lahan HPH sektor Habinsaran, beberapa mitra kerja PT. TPL sangat kecewa atas sikap menajemen PT. TPL. Menurut salah seorang mitra, PT. TPL sengaja mengulur-ulur waktu pembayaran hasil kerja para Mitra, walupun mitra tersebut telah melaksanakan 100% pekerjaannya. Padahal para mitra umumnya meminjam modal, karena selalu terlambat pembayaran yang kadang sampai delapan bulan oleh PT. TPL, banyak mitra yang gulung tikar, karena tidak mampu membayar bunga uang di bank.

Kejadian itu memunculkan asumsi PT. TPL tidak ada modal dan kemudian memperalat para mitra untuk memodali usahanya. Begitu juga menurut keterangan Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Habinsaran. PT. TPL tidak memberikan perhatian dalam rangka peningkatan SDM. Menurutnya, tidak satu orangpun muridnya mendapat beasiswa dari PT. TPL.

Lain lagi keterangan Camat Habinsaran, Bernard Siahaan ST. Menurutnya dia, Menejemen PT. TPL di Sektor Habinsaran sangat berbelit-belit. Kalau pinjaman alat berat untuk perbaikan jalan yang rusak maupun longsor, harus dua tahun menunggu baru didatangkan. Pekerjaannya sudah selesai, baru TPL mendatangkan alat tersebut. Padahal mereka bersedia membayar upah operator dan BBM.

J Situngkir SH, Camat Borbor mengatakan”, HPH PT. TPL di Kecamatan Borbor sangat luas, setiap hari kendaraan perusahaan tersebut melintas didaerah itu, sementara ruas-ruas jalan yang dilalui kendaraan tersebut sudah rusak parah, namun oleh PT. TPL sendiri tidak pernah peduli.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: