Skip to content

BLOK ASAHAN TANPA KOMITMEN DAERAH

20 April, 2007

Penulis : Halomoan Butarbutar  

Wagubsu Drs Rudolf Pardede meresmikan pembangunan kembali Proyek PLTA Asahan 1 di Desa Ambar Halim Kec. Pintupohan Meranti Sabtu 11 Pebruari 2006. Peresmian ini adalah lanjutan acara peresmian di Jakarta dua hari sebelumnya oleh Menteri Sumberdaya Mineral  Pembangunan kembali Proyek PLTA Asahan 1 ini dilanjutkan oleh perusahaan dari China Huandian Enginering Corporation dengan investasi Rp 2,5 triliun bekerja sama dengan Perusahaan lokal PT Bajra Daya Sentranusa, perusahaan yang gagal membangun PLTA Asahan pada tahun 1997 diakibatkan krisis moneter.  PLTA Asahan 1 diharapkan dapat berproduksi pada thn 2009, menghasilkan energi listrik 2×90 MW. Wagubsu Drs Rudolf Pardede waktu itu mengatakan, selain menambah pasokan energi listrik untuk Sumut juga dapat menyerap tenaga kerja khususnya masyarakat dari Kab. Tobasa yang nota bene masih banyak pengangguran. Pertumbuhan perekonomian di Kab. Tobasa secara otomatis, dapat mencapai 6,5 %.

 Dalam pelaksanaan pembangunan proyek tersebut. PT Bajra Daya Sentranusa diminta supaya memberdayakan masyarakat lokal untuk diikut sertakan dalam masa pembangunan proyek ini. Menurut Gubernur bahwa pembangunan kembali PLTA Asahan 1 ini dapat membawa angin segar  kepada investor dari luar negeri untuk menanamkan modalnya di Indonesia khususnya di Sumatera Utara.Bupati Tobasa mengakui, Pemkab Tobasa merasa terbantu dengan pembangunan sarana infrastruktur disekitar lokasi yang memberikan kontribusi untuk Kab. Tobasa. Dari pernyataan dari dua orang pejabat inti itu, tidak ada terdengar sharing yang akan diperoleh daerah dari pendapatan industri setrum ini bila sudah beroperasi.Barangkali master Agreement hanya dilakukan antara PLN dan Pemerintah Pusat tanpa melibatkan daerah, atau daerah tidak mampu melakukan negosiasi. Tidak ada wakil rakyat yang melakukan opini tentang keberhasilan atau kecolongan daerah dengan dibangunnya pembangkit listrik itu, termasuk termasuk rencana pembangunan Asahan 3.Masyarakat Tobasa misalnya, hanya melihat peluang mendapatkan pekerjaan dengan adanya proyek itu, jangan terjadi lagi seperti yang dikatakan pepatah orang Batak “mauas di toruni sampuran”, kehausan dibawah air terjun.Kita tidak belajar dari Asahan 2 yang dikelola PT INALUM yang master agreementnya bagaikan kitab suci yang tidak dapat dirobah dan melebihi rahasia negara, kita seharusnya sejak awal mengantisipasi rencana eksploitasi Asahan 1 dan Asahan 3. Forum Pamita akan terus menelusuri perkembangan ini dengan tujuan semata-mata meningkatkan peluang daerah untuk melakukan negosiasi di blok Asahan penghasil energi yang sangat potensial ini.

Barangkali kita perlu belajar dari masyarakat Papua atas Feeport dan masyarakat Cepu atas blok Cepu. Tuntutan masyarakat atas blok Cepu akhirnya dipertimbangkan pemerintah. Bagaimana hak kita di blok energi sungai asahan?

One Comment leave one →
  1. Tondi permalink
    9 November, 2007 6:30 am

    dari pengamatan di lapangan khusus dari golongan pekerja konstruksi di sana, bnayak di temukan bahwa sistem pembayaran upah lembur tidak jelas . karena semua berkas lembur ditulis ulang dengan sub kontraktor dari china (bukan China Huandian), dengan menggunakan bahasa mandarin dan tulisan mandarain sementara pekerja dari chinanya sendiri tidak bisa berbahasa inggris

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: