Skip to content

Menuju Ambruk

3 April, 2007

Menuju Ambruk

Ini merupakan Rumah Taradisional Batak yang disebut Tari Sopo terbesar yang pernah ditemukan di Toba. Berada di Lumban Nabolon Kecamatan Uluan Toba.

8 Komentar leave one →
  1. sabam permalink
    1 Oktober, 2007 10:42 pm

    lestarikan adat batak

  2. Esther Purba permalink
    3 Oktober, 2007 7:49 am

    Memprihatinkan…
    Rumah adat ini milik marga apa?
    Akses ke sana apakah bisa ditempuh dengan angkutan umum?
    Maaf, saya tidak paham medan di sana… Seberapa jauh dari Tomok?
    Dibangun tahun berapa?
    Apakah bangunan ini berdiri sendiri atau berada dalam satu komplek dengan bangunan lain (seperti rumah adat di kampung Ambaria Samosir)?

    Salam

  3. h. sirait permalink
    18 Oktober, 2007 9:26 am

    Milik marga Sitorus dari Lumban Nabolon, akses ke lokasi dapat berkendaraan roda empat atau roda dua, dari simpang Sirait Uruk Porsea 3 Km menuju huta L. Nabolon Bagasan. Kalau dari Prapat kira2 60 Km arah menuju Porsea, mungkin usianya sudah kira2 150 tahun, dan berdiri dalam satu kompleks seperti yang di Ambarita Samosir.

  4. pamita permalink*
    20 Oktober, 2007 9:06 am

    @ Ester
    Benar apa yang dikatakan lae Sirait itu. Bangunan lama yang kondisinya seperti itu banyak ditemukan di Toba. Kurang pelestarian, kurang respon pemerintah menjaga cagar budaya. Setidaknya itu pendapat kami sementara. Beberapa tahun lagi Toba akan kehilangan bengunan bersejarah yang seogianya menjadi pusat penelitian arsitektur batak dan nilai yang dikandungnya.

  5. Esther Purba permalink
    19 April, 2008 10:14 am

    Hari Kamis tgl 17 April yg lalu saya hadir di acara peresmian TB Silalahi Center Balige. Jauh-jauh hari sudah digaungkan di media massa bahwa museum tersebut akan menjadi pusat pelestarian budaya Batak yg memiliki rumah bolon asli, kampung Batak dengan 6 rumah adat asli lengkap dengan gambaran kehidupan orang Batak jaman dahulu yg hidup sbg petani, nelayan, peladang dan bertenun ulos. Hal ini yang menjadi pendorong utama ke sana.

    Menurut saya, memindahkan 6 rumah adat ke kompleks HUTA itu, secara fisik mungkin bisa menjamin perawatan dan kelestarian fisik bangunan tersebut. Enam rumah adat tersebut memiliki lukisan motif Batak yg sangat indah, kaya akan detil motif yg rumit, dan juga warna merah yg terang, tiang kayu dan balok penyangga dari kayu yg kokoh, yg memberi kesan, setidaknya untuk saya, kebesaran, keindahan, dan keagungan rumah adat tersebut.

    Namun, kita juga tahu, bahwa pembukaan lahan menjadi sebuah kampung dan pendirian rumah di huta Batak, tidak lepas dari keterkaitan dengan bentang alamnya. Bentang alam yg memiliki pohon-pohon, sumber air, bentuk tanah yg berbukit-bukit, yang memberikan roh dan keyakinan bagi seseorang untuk yakin bahwa di tempat itu lah sebuah huta tepat dan baik untuk dibangun. Dan keyakinan tersebut dicoba untuk dipastikan dan diminta petunjuknya dari Yang Mahakuasa melalui penanaman pohon ara.

    Gambaran dan roh dari nilai-nilai budaya Batak seperti itulah yg kiranya ingin kita cari dan dapatkan ketika mengunjungi perkampungan ASLI Batak, yg dari mulanya memang telah ada di sana. Para wisatawan bisa berharap memperoleh pengalaman itu dengan berkunjung ke Simanindo, Janggal Dolok, dan mungkin ke Ambarita. Sayangnya yang terakhir ini, atap rumah adatnya beratapkan seng sehingga memadamkan romantisme kenangan akan rumah adat Batak yang seluruh bahannya dari ijuk, utuh dari alam.

    Roh tersebut semakin hidup jika kita dapat melihat kehidupan dari penghuni yang masih mendiami rumah tersebut. Jika beruntung, bisa bertemu dan bercakap-cakap dengan penghuninya. Bisa berjumpa dengan babi atau anjing yng muncul dari kolong rumah-rumah tersebut tentunya juga menjadi pengalaman yg mengesankan dan berharga bagi mereka yang datang untuk merasakan roh budaya Batak di sebuah huta Batak. Kubur batu atau seonggok batu besar dengan kisah yg mistis juga memberikan roh sendiri.

    Saya jadi teringat, dengan rumah adat di Simanindo dan rumah bolon Purba di Simalungun.

    Kita harus melewati pepohonan rimbun, seperti berada di lorong misteri sampai akhirnya mendapati huta dan rumah-rumah itu berdiri megah di tengah lapangan yang luas dan benderang. Rasanya, perjalanan “menembus” rumpun pohon menuju huta tersebut menjadi momen di mana kita sejenak menyiapkan diri, untuk menjadi manusia yang “layak dan pantas” memasuki sebuah huta, dengan hening, tak banyak bicara, penuh rasa hormat dan menjaga sikap selalu santun.

    Semua pengalaman itu tidak dirasakan dan ditemukan di museum Balige itu. Apapun yang namanya artifisial, peniruan, dan “mengecilkan” agar semuanya “terpaket” dan “menjadi satu” dalam proses yang singkat, hanya akan memberikan kepuasan fisik belaka.

    Pengayaan spiritual tak akan bisa didapat di sana, setidaknya menurut saya.

    Sekarang tergantung, apakah wisatawan yg datang ke TB Center Balige itu, bisa datang, lihat, dan pulang dengan cukup puas melihat kehadiran fisik huta buatan di sana itu.

    Saya tidak merasakan pengalaman merasakan “roh” nilai-nilai budaya Batak ketika berada di huta di museum Balige itu meskipun segala tiruan alam seperti kubur batu, pohon bambu diupayakan ada di sana.

    Menurut saya, jika masih banyak jutawan Batak yg berhasil di perantauan dan berniat untuk membangun hutanya, kiranya sungguh mulia jika mau membantu dan menjadi donatur untuk merawat rumah-rumah adat dan huta yg mungkin masih banyak di Tapanuli, Tobasa sana tanpa harus mencabut dan memindahkannya ke sebuah kawasan khusus yg (menurut saya) tidak memiliki keterkaitan emosi dan kisah yg terkait dengan rumah-rumah asli itu.

    Saya tidak bilang, TB Center itu tidak baik dan tidak pantas menyandang peran sebagai “tempat untuk menjaga dan melestarikan” budaya Batak.

    Hanya saja, untuk orang yang ingin mencari pengalaman spiritual di huta Batak yang memiliki rumah adat Batak asli dgn bentang alam mengitarinya seperti saya ini, mungkin tidak bisa berharap banyak bisa memperolehnya di TB Center itu (menurut saya loh ya😉 )

    Ada yang bisa memberikan info keberadaan huta BAtak dengan rumah adat asli yang besar, indah, mistik di blog ini? Saya mau mengunjungi…

    Sayang karena waktunya terbatas, saya tidak sempat ke Laguboti, berharap bisa mengunjungi huta komunitas Parmalim…

    Salam,
    Esther

  6. 16 Desember, 2008 6:31 am

    Menyedihkan jika peninggalan sejarah saja sampai diabaikan seperti itu … bagaimana dengan perhatian pemerintah setempat dan tokoh-tokoh yang ada disana ?
    Jika peninggalan sejarah saja tidak bisa terpelihara bagaimana mungkin budaya bangsa batak ini bisa terjaga dan dilestarikan sampai ke anak-cucu berikutnya nanti…. padahal kami ini yang di perantauan sudah di wanti-wanti atau dianggap tidak bisa memelihara tradisi .. lalu bagaimana ini apa yang bisa kami ceritakan ke anak-cucu nanti …. ???

  7. Humisar Sitorus permalink
    19 Mei, 2009 5:21 pm

    Sangat menyedihkan peninggalan sejarah tidak ada yang memberi perhatiannya baik dari pemerintah daerah maupun dari yang berwenang yang menjaga kelestarian adat budaya bangsa ini. Bagaimanna kita akan menceritakan kepada anak cucu kita kebesaran nenek moyangnya.
    Kami sangat mendukung pelestarian nilai budaya yang ada di Indonesia.

  8. 23 Mei, 2009 4:09 pm

    di samosir masih banyak rumah adat tradisional batk yang masih berdiri kokoh,
    jadi bagi para anak batak yang sayang pada budayamu,
    lakukan apa yg bisa kamu lakukan untuk tetap melestarikan itu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: