Skip to content

BATAKOLOGI DALAM PENDIDIKAN DI TOBASA

1 April, 2007

Semangat generasi muda untuk menemukenali budaya Batak semakin rendah. Gejala ini dapat saja dipengaruhi oleh pelaksanaan budaya batak itu sendiri dalam acara adat sudah semakin dipenuhi warna yang jauh dari konteks budaya batak. Kesempatan ini konon dimanfaatkan kelompok tertentu untuk menajiskan segala atribut yang berbau kebatakan.
Kenyataan ini mengakibatkan semakin berkurangnya minat orang batak untuk mengetahui dan melakukan kebudayaannya itu. Konon sudah ada gerakan menghapus budaya batak dan peninggalannya dalam kehidupan sehari-hari.

Saat ini budaya batak dikenal sebatas kegiatan pesta adat dan bidang kesenian. Nilai luhur yang terkandung dalam poda na tur dan hakekat pelaksanaan adat sudah mulai terkikis. Apa yang kita lakukan selama ini yang kita namakan dalam implementasi adat batak lebih banyak menampilkan assesorinya saja, maknanya sudah pudar. Hal ini, kita dapat menyaksikan dalam pesta pernikahan batak, dalam satu hari dilaksanakan acara, unjuk, mebatebat dan tingkir tangga. Kegiatan ini seogianya dilakukan pada hari yang berbeda dan ada tenggang waktu.

Di bidang kesenian, budaya kita nyata sudah terpuruk dengan masuknya musik barat dalam acara adat batak. Disini, alat musik tradisional menjadi komponen minor dan para pelaku adat itu menggunakan tortor batak dalam musik barat. Celakanya, ini telah menjadi kebanggaan dan diklaim agar kita dapat menerima budaya lain dalam kebudayaan kita sebagai pemenuhan. Dalam hal ini, arti pemenuhan telah berdampak kepada penggeseran apa yang ada “kesenian” milik kita sendiri.

Penilaian naif budaya batak dimulai dari pemikiran modern. Menggeneralisasikan budaya batak itu sebagai produk primitif, dinamisme dan animisme. Ulos dari segi pandangan material sebagai “si palas roha, si palas daging” pun dianggap magis animis sehingga dibakar.
Pada Simposium Penerapan Kurikulum Batakologi dalam Pendidikan Tobasa, Bupati Tobasa Drs Monang Sitorus SH, MBA mengatakan untuk “Bangga menjadi orang Batak”.

Untuk bangga menjadi orang batak, tentu saja ada yang dibanggakan (objektif). Kita harus mengenal apa itu batak, apa itu habatahon dan segala nilai yang dikandungnya. Dalam pemikiran subjektif intelek kita diharapkan mampu menganalisa dan memilah sisi negatif dan fositifnya. Akal sehat akan menggiring kita terhadap pengamalan budaya sebagai bagian normatif yang mendukung gerakan dinamis dan positif.

Dalam berbahasa, dengan bahasa batak sebagai contoh kita mengenal kata “pantun hangoluan, tois hamagoan”. Bila kita analisa dengan indikator dinamika positif, muatan kata ini justru akan meningkatkan kecermatan dalam setiap mengawali langkah kegiatan bermasyarakat. Dalam pengertian yang terdekat, bagaimana sejak awal generasi kita memanggil “amang, inang, tulang, amangboru, namboru, ompung” terhadap yang lebih tua, “eda, lae, hahang” terhadap sebaya.
Nilai budaya batak itu sendiri, tidak sesederhana sebatas apa yang dipahami secara umum, karena mencakup hal yang sangat luas.

Tentang filosofi dalihan natolu, ada pebedaan pemahaman bila dikaitkan dengan falsafah hidup kebudayaan batak. Menurut Raja Bilher Marpaung, Ketua Lembaga Budaya Batak Bona Pinasa, dalihan natolu merupakan struktur terdekat dengan partuturon, sementara pemahaman yang luas adalah suhi ni ampang na opat. Ini sudah jarang dipedomani karena peran Raja dalam sistim kemasyarakatan batak sudah hilang. Dalam tatanan kemasyarakatan batak dulunya ada aturan yang menyatakan, somba marhulahula, elek marboru, manat mardongan tubu, hormat marraja. Ini tetap dijaga karena peran “raja” sangat menting untuk mengawasi tatanan kemasyarakatan itu sehingga disebut “raja urat ni uhum”. Saat ini suhi ni ampang naopat hanya dapat dimengerti pada saat pesta perkawinan, mereka penerima todoan dari sinamot berupa ulos di pihak pengantin pria, persembahan berupa uang untuk pihak pengantin wanita.

Pada sistem pemerintahan tradisional batak juga terdapat stukrur “suhi ni ampang na opat” mereka terdiri dari pargomgom, pangumei, partahi dan namora. Peran “raja” pada sistem kemasyarakatan batak tergusur berikut diangkatnya raja oleh pemerintah Belanda yang berpihak kepada kepentingan penjajah.

KURIKULUM BATAKOLOGI
Kecintaan terhadap budaya batak tidak berarti hanya dalam ucapan tapi dengan perbuatan. Langkah ini telah menjadi agenda bagi Bupati Toba Samosir Drs Monang Sitorus SH, MBA yang berprinsif menggali budaya Batak yang sudah hampir tenggelam itu. Melalui dialog dengan PAMITA niat itu dicetuskan. PAMITA bergerak mengorganisir kekuatan informasi dari masyarakat dan mendata potensi penyusunan kurikulum.

Pada tanggal 15 November 2005 saat PAMITA melakukan dialog yang dihadiri para kepala sekolah, Bupati Tobasa secara spontan mencanangkan penerapan pembelajaran budaya batak di sekolah menunggu rangkaian kurikulum selesai dibuat oleh tim yang diangkat untuk itu.
Konsistensi itu dipertegas beliau saat dilakukan Simposium penerapan kurikulum Batakologi pada pendidikan Tobasa 21 November 2006 lalu oleh Dinas Pendidikan Tobasa.

Persoalan sumberdaya adalah masalah kedua, yang penting ada kemauan diantara kita untuk menerima tugas sesuai dengan fungsi masing-masing untuk mengajarkan pengetahuan tentang batak (batakologi) di sekolah.
Pendidikan Batakologi ini pada dasarnya diarahkan untuk menumbuhkan rasa memiliki budaya sendiri dan membentuk sikap apresiatif, kritis serta kreatif dalam diri peserta didik, dalam rangka mengembangkan budaya sebagai asset pengembangan Budaya Nasional.

Kurikulum Pendidikan Batakologi ini dilakukan sebagai respon terhadap tuntutan perkembangan informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, seni, tuntutan desentralisasi dan hak azasi manusia. Oleh karena itu siswa dituntut menguasai kompetensi untuk menggali, menyeleksi, mengolah dan mengkomunikasikan bahan kajian Batakologi yang telah diperolehnya.
Generasi muda diharapkan mampu melakukan pendekatan budaya mencari makna terhadap segi-segi kehidupan masyarakat yang mencakup manusia sebagai individu (antrophos), lingkungan hidup (oikos), peralatan (tekne), dan komunitas (ethnos).

Kurikulum ini memuat aspek filosofis, konsepsi, moralitas, histories, linguistic, apresiasi, dan kreasi yang disusun dalam satu kesatuan bahan ajar berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi.
Dalam proses pendidikan Batakologi guru diharapkan mengajarkan berbagai nilai-nilai tradisi yang positif dan dapat mengembangkan nilai-nilai luhur, meningkatkan kematangan pribadi menuju masyarakat beradab.

Pembelajaran Batakologi merupakan semua bentuk kegiatan yang direncanakan secara sistematik untuk mengembangkan dan meningkatkan individu secara intelektual, emosional, spiritual, moral dan estetika Batak dalam konteks kekayaan Budaya Nasional. Siswa mengenal, mencintai serta berpartisipasi aktif melestarikan budayanya, menumbuhkembangkan sikap toleransi, demokrasi, beradab serta mampu hidup rukun dalam kehidupan masyarakat, mengembangkan kepekaan rasa, kebersamaan, keterampilan dan penerapan IPTEK yang berbudaya.
Dengan demikian Batakologi bertujuan agar siswa mengenal dan mencintai aksara, bahasa, adat istiadat, sitem kekerabatan, arsitektur, hukum, ketataprajaan, teknologi, ilmu pengetahuan, keterampilan dan kesenian Batak Toba.

Selama ini diketahui sudah banyak melakukan penelitian tentang budaya batak dan pendokumentasian. Banyak penulis dalam budaya itu yang membahas budaya batak secara luas namun belum ada ide untuk penerapan dalam kehidupan. Contoh, ada yang mengeluhkan sitaan waktu yang banyak dalam pelaksanaan acara adat perkawinan, namun tidak ada yang memberikan solusi yang tidak menyimpang dari pelaksanaan adat yang sebenarnya.

Orang Batak sudah lebih mencintai ornamen budaya asing dalam budaya batak dan melaksanakan dalam acara adat. Tentu saja ini akan mencabut budaya batak dari generasi muda.

Terobosan yang dilakukan Bupati dan Wakil Bupati Tobasa dalam pelestarian nilai budaya batak melalui pendidikan patut didukung. Dinas Pendidikan Tobasa sebagai regulator dalam pendidikan di daerah ini telah mennyatakan keseriusannya untuk mewujudkan program ini, dan diakui masih banyak hal yang masih harus dipikirkan seperti kelengkapan buku pendukung pembelajaran dan kemampuan tenaga pengajar.

15 Komentar leave one →
  1. 27 April, 2007 3:00 am

    budaya batak, dilihat dari sejarah luhur, perkembangan dan tuntutan jaman dan keesensialannya dalam realitas kehidupan sekarang, oke-oke saja dijadikan kurikulum, tetapi jangan sampai kehilangan makna dan tujuan dari pendidikan itu sendiri.

  2. 29 April, 2007 2:35 pm

    semua program kurikulum itu telah baik adanya namun yang disayangkan pada hakekatnya kenyataan di lapangan masih banyak orang2 yang berkompeten mandek dalam kekakuan untuk tugas tersebut namun mereka yang hanya nota bene memiliki Akta4 berani melakukan tugas tersebut. Kita bisa maju kalau kita saling mengisi. “Saved Batak Nation”

  3. Yusak Sipayung permalink
    11 Mei, 2007 2:53 am

    Saya bangga menjadi orang batak. Walaupun saya lahir di perantauan dan tidak memiliki warisan budaya yang kaya terhadap budaya batak, saya tetap memandang bahwa menjadi orang batak adalah identitas yang tidak dapat dubah dan dihilangkan begitu saja, batak sebuah bangsa yang harus terus ada. dan mampu melakukan sesuatu untuk Negara dan dunia ini. Saya dukung komitmen ini dalam wacana memajukan SDM generasi batak di masa depan. melahirkan generasi-generasi yang siap untuk perubahan dunia.

    “Long Live Batak Nation”

  4. Charlie M. Sianipar permalink
    21 Mei, 2007 12:47 am

    Semoga terwujud. Salah satu bagian dari budaya Batak tentu Bahasanya. Pada umumnya orang Batak sangat Bangga dia lahir sebagai orang Batak antusias bila bercerita tentang Bangso Batak. Disisi lain, anaknya sendiri tidak diajari berbahasa Batak. Mau bukti? Tidak perlu jauh jauh, kita lihat di Medan, ajak anak mudanya marhata Batak, berapa orang yang merespon komunikasi tersebut dalam bahasa Batak?

    Mungkinkah orang yang tidak mengerti Bahasa Batak akan mewarisi Adat Batak?

  5. Farida Simanjuntak permalink
    30 Juni, 2007 12:41 am

    Horas………….
    Saya selaku boru batak yang merantu ke negara lain merasa sangat senang karena pemerintah tobasa memiliki ide untuk melestarikan budaya batak. Walau kuliah di Bogor dan bekerja di negeri orang tapi saya hanya punya 1 tanah kelahiran yang sangat saya cintai yaitu Balige. Masa kecil dan remaja saya habiskan di sana. Saya akui kurang lancar bahasa bataak karena dari ompung sampai bapak selalu menggunakan bahasa Indonesia di rumah tapi wajib tahu bahasa batak. Semasa sekolah saya paling senang pelajaran bahasa Batak (SD,SMP,SMU Katolik). Tapi belakangan ini saya merasa sedih karena banyak pelajar yang merasa malu dengan bahasa batak dan sudah mengadaptasi gaya bahasa metropolitan. Pelajaran bahasa batak dianggap tidak penting. Waktu kuliah, kawan2 saya sangat ingin belajar bahasa batak walau beda suku. Sekarngpun, saya dan kawan2 beda negara sering saling bertukar bahasa dan saya tetap bangga memperkenalkan bahasa batak. Semoga budaya batak tidak tergeserkan kultur luar yang bisa mematikan kepedulian halak hita terhadap jati dirinya sendiri. Hidup bangso batak……. Horas

  6. 2 Juli, 2007 5:48 pm

    horas bah…!
    saya sebagai suku batak sangat bangga dengan tradsisi dan adat batak yang semakin lama banyak suku batak mulai melupakannya, suku batak itu sangat kompleks dan sangant kompetibel dengan kehidupan sekarang,maka dari itu batakologi dimasukan dalam kurikulium di tobasa itu sangat baik dan sangat dibutuhkan saat ini agar semua orang yang bersuku batak dapat newarisi adat batak, kenapa? karna jaman sekarang oarng tua kita sangat tidak mengajarkan budaya batak dan berkesan cuek, mungin dengan kurikulium ini dapat mengatasi segala kekurangan dalam pewarisan adat batak.

    *** Horas ma tutu pak Romy Purba.

  7. Radja Martahi Nadeak permalink
    9 Juli, 2007 11:00 am

    horas…..
    tidak semua orang batak apalagi generasi muda tidak tau tenang oadat batak… dalam hal ini perlu digarus bawahi… bukan acara, ulos dan, tortor serta gondang yang perlu di sini dikemal. kebanyakan kita mengartikan hal tersebut. tapi nilainnya.

    salah satu contoh ada seorang gadis di jakarta, yang sangat pintar manortor,dia sering di dipesta2 batak. tapi sedikit pun dia ga ngerti arti martarombo, jgnkan taombo bahasa batak pun masih janggal. dan masih banyak lagi orang batak tapi tidak tau bahasa batak.

    pernah ga dengar cerita ada sepasang muda mudi pacaran. mereka sama2 orang batak tapi tidak dicantumkan marga. dan mereka tidak tau arti marga tiu.akibatnya….?? hayo siapa yang disalahi… si anak atau orang tua?
    semuanya berasal dari rumah… diaman kita berkupul dengan keluarga
    disitulah nilai-nilai tersebut diajarkan.

    seklali lagi semua berasal dari rumah. disekolah itu hanya tambahan…..

    maulite.

  8. 10 Juli, 2007 2:21 am

    ide bagus, good idea. horas!

  9. 25 Agustus, 2007 2:14 am

    Horas halak batak sudena…..
    Ada yg tau tdk website tempt bljr bhasa batak ?? aku seh bkn halak batak,asl ku dri Brunei dan aku org mlyu…..kpengen kali sja aku bljr bhsa klen ini dsamping mnambh wawasan brbhasa la…..
    Mauliate x yha dongan


    @ Horas Ze
    Kurang tau website yang memberi pelajaran bhs batak. Tapi di http://www.tanobatak.wordpress.com banyak artikel berbahasa batak.

  10. 28 Agustus, 2007 4:45 am

    Oke maulite atas respond nya….

  11. 30 September, 2007 6:04 pm

    Buat warga batak yg maragama islam,ku ucpakan slamat manunaikan ibdah puasa

  12. pamita permalink*
    1 Oktober, 2007 9:55 am

    Pamita juga mengucapkan selamat menunaikan Ibadah Puasa

  13. Himmel Sihombing permalink
    31 Oktober, 2007 11:30 am

    Saya setuju dengan Lae Charlie M. Sianipar (par-Siantar do lae kan?).
    Saya rasa kita sebagai orang Batak sudah seharusnyanya mengerti bahasa Batak (bukan hanya pasif, tapi juga aktif) sebagai identitas otentik, selain pake embel-embel marga (apalagi akhir-akhir ini makin banyak aku lihat orang Batak yang tidak pake embel-embel marga di akta lahirnya. Aneh kan….).
    Maka dari itu, aku berniat untuk menggunakan bahasa batak sebagai bahasa pengantar di rumahku, sehingga anakku dari kecil sudah terbiasa pake bahasa batak.

  14. 5 November, 2007 11:41 am

    Ide memasukkan Batakologi kedalam kurikulum ide brilian. Kalau bisa dari SD sampai SMU dimasukkan. Sewaktu saya masih SD di kampung saya Samosir, memang ada mata pelajaran Bahasa Daerah. Tetapi hanya SD, itupun hanya tulisan dan bahasanya saja. Setelah masuk SMP (pdhal masih SMP di Samosir) Mata pelajaran bahasa daerah tidak ada lagi. Bahkan SMU (masih di Balige) tidak ada lagi. Yang lalu biarlah berlalu, mumpung perubahan ada di negara ini, mari kita bangkit lagi untuk menggali budaya kita itu. Mungkin di zaman orde baru ada unsur penghapusan budaya batak. Biarlah itu berlalu, masih syukur tidak sampai genocide (penghapusan gen/manusia batak).

    Saya bilang ide brilian, karena memang kenyataan budaya batak itu tidak sekedar bahasa dan tulisan, bahkan itu tidak seberapa dibanding nilai2 budaya batak yang mencakup banyak hal. Sekedar berandai-andai, kalau nilai2 dan ide ‘Dalihan Natolu’ bisa lebih populer dari ide Demokrasi yang banyak dianut negar2 saat ini, semua bangsa/negara yang menganut ide “Daliha Natolu” akan damai dan sentosa.

    Kalau saja kepercayaan / agama batak lebih duluan populer daripada agama Kristen dan Islam di dunia ini, mungkin tidak akan ada perang salib, kerusuhan Ambon dan Poso, perang antar umat beragama, terorisme, perdagangan agama demi kepentingan pribadi dan kepentingan politik, perselisihan antar pemimpin gereja(pangula ni huria), booming pendirian organisasi gereja yang baru untuk mencari dana(bisnisisasi gereja) dan lain-lain.

  15. A.K.P. Panggabean permalink
    9 Juni, 2011 4:36 am

    Semangat generasi muda untuk menemukenali budaya Batak semakin rendah. Hal ini karena generasi muda tidak memiliki jembatan untuk memahami / mengerti budayanya sendiri, dimana jembatan itu sendiri bernama HATA BATAK. Bagaimana bisa memahami budaya Batak sedangkan bahasa Batak saja tidak ngerti??????? Kalo kita ingin supaya adat Batak itu bisa lestari, maka gereja-gereja Batak seperti HKBP, HKI, GKPI harus mengadakan kursus bahasa batak di gereja masing-masing. Saya yakin jika kursus bahasa batak telah diadakan, maka rasa cinta pada budayanya sendiri akan tumbuh di kalangan generasi muda.

    kita dapat menyaksikan dalam pesta pernikahan batak, dalam satu hari dilaksanakan acara, unjuk, mebatebat dan tingkir tangga. Kegiatan ini seYogianya dilakukan pada hari yang berbeda dan ada tenggang waktu. ZAMAN SEKARANG ORANG BATAK PADA UMUMNYA BERSTATUS KARYAWAN, BUKAN LAGI PETANI DI KAMPUNG MASING-MASING. JIKA KITA TERUSKAN KEBIASAAN OMPUNTAI MELAKSANAKAN ADAT SELAMA BEBERAPA HARI MAKA LAMBAT LAUN ORANG BATAK AKAN DIPECAT OLEH BOSSNYA KARENA ADAT BATAK. SEBAB DALAM SETAHUN YBS SUDAH BEBERAPA KALI TIDAK MASUK KRN ADAT BATAK.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: