MENGAPA KONVERSI LAHAN PERTANIAN

Monang Naipospos

Dari data Sensus Pertanian 1983-1993, setiap tahun lahan pertanian yang dikonversi di Indonesia mencapai 40.000 hektar. Kalau setiap hektar biasanya menghasilkan 5 ton gabah, maka pada tahun 1993 kita sudah kehilangan produksi sebesar 2 juta ton. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa luas lahan pertanian yang dikonversi kira-kira dua kali lipat dari yang terjadi satu dasawarsa sebelumnya. Ini jelas semakin menurunkan potensi produksi yang biasa kita hasilkan (Media Nusantara 20 September 2002). Setelah tahun 2007 belum diketahui berapa jumlah lahan yang dikonversi.

Di tanah Batak terjadinya konversi lahan pertanian kebanyakan akibat kebutuhan perumahan. Sebenarnya lahan perumahan masih dapat dialihkan ke lahan kering tandus, akan tetapi sarana penghubung dan lokasi staregis biasanya banyak terdapat pada lahan pertanian sepanjang Lumbanjulu dan Pahae. Penyebab kedua adalah yang tidak masuk akal bila ditinjau dari sisi ekonomi lahan pertanian diperuntukkan untuk pekuburan, tugu dan bangunan seremonial saja.

Turunnya produksi pernanian bukan hanya karena peruntukan lahan ke bidang Perumahan dan Pekuburan, akan tetapi banyak lahan terlantar karena tidak didukung jaringan irigasi teknis. Lahan tadah hujan yang banyak ditemukan di Pulau Samosir misalnya kebanyakan beralih fungsi dan istirahat. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengaktifkan lahan pertanian di Samosir, selalu berujung menjadi sawah tadah hujan. Pompanisasi dengan menggunakan kincir dan mesin kebanyakan tidak berfungsi.

Bila diamati, menjadi petani sungguh sangat tidak membanggakan. Hasil produksi selalu dipermainkan pasar sehingga tidak ada iklim kondusif lagi bagi petani melakukan investasi tambahan untuk mengembangkan pertanian. Sistim ekonomi kerakyatan tidak jelas sasarannya dan pada umumnya petani miskin tidak pernah merasakan manfaatnya. Kebanyakan orang yang dapat melakukan akses ke kekuasaan memperoleh keberuntungan dari dana yang seogianya untuk petani yang benar petani. Dengan keadaan ini kemungkinan besar petani memperhitungkan menjual lahan pertaniannya untuk peruntukan perumahan dan lainnya dengan tawaran menggiurkan.

Setiap Kabupaten di Tanah batak biasanya menetapkan salah satu Pilar Pembangunan di sektor pertanian. Barangkali kita semua perlu mengamati dimana pilar itu ditancapkan, berapa ukurannya dan siapa yang akan dan telah ditopang pilar itu. Barangkali perbincangan untuk itu tidak akan pernah terjadi mengingat isu yang berkembang saat ini masih seputar pembentukan Porpinsi Tapanuli, penelitian penyimpangan penggunaan dana oleh bupati, menyusul pembagian proyek dan biasanya diakhiri dengan pengaduan proyek bermasalah, dan akan berlanjut lagi ke seputar laporan pertanggung jawaban Bupati. Setelah itu?

Pemilu Gubernur 2008 dan Pemilu DPR/DPRD dan Presiden 2009 menyusul, Tim sukses Cagubsu bakalan muncul menjual “kecap nomor satu”, Partai akan konsolidasi persiapan 2009. Bahkan petani “pun” bakal sibuk membahas seputar Calon Gubernur, partai dan calon anggota dewan. Mereka sesaat akan lupa akan nasibnya sebagai petani yang ekonomi lemah yang kurang dapat perhatian.

Taput, Tobasa, Humbahas dan Samosir sama potensial untuk mengembangkan pertanian lahan kering atau perkebunan. Bila di Taput masyarakat memberikan lahan untuk peruntukan pabrik pengalengan nenas, harapannya dapat atau akan membantu peningkatan pengolahan lahan yang tersedia dan dapat dikembangkan lagi oleh masyarakat tani sendiri. Sayangnya, gaung peningkatan kebutuhan nenas tidak sampai ke Toba, Humbahas dan Samosir.

Anggaran Daerah untuk bvembiayai operasional dan proyek Dinas Pertanian cukup besar setiap tahun, bahkan dapat melampaui hasil yang diproduksi petani itu sendiri. Namun nasib petani tetap mengambang. Harga pupuk yang melambung dan diiringi kelangkaan pupuk dipasaran sudah menjadi beban petani setiap tahun. Petani memperhitungkan, dengan mengolah tanah dengan luas tertentu selama hidup dibanding dengan menjual tanah itu untuk kebutuhan perumahan. Terbukti, lebih baik menjualnya. Petani sebagian berpikir, cukup mengolah sawah tanaman padi untuk konsumsi seharihari. Waktu yang tersisa lebih baik digunakan untuk kegiatan lain yang mendukung peningkatan ekonominya. Bila semua petani berpikir demikian, kita akan menjadi pengimpor beras terbesar selama negeri ini dikelola tanpa perubahan kebijakan yang memihak kesejahteraan petani.

2 Tanggapan

  1. permisi numpang berita dulu ya !!!!!
    [penting soalnya ini]

    Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Letjen Cornel Simbolon menyatakan keprihatinan yang mendalam, karena ratusan meter hutan perawan di Tele, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, telah ditebas habis baru-baru ini. Selain mencemaskan resiko bencana longsor, apabila areal hutan seluas 2.250 hektar di daerah itu habis dibabat, Cornel juga mensinyalir bahwa investor cuma ingin menyikat kayu disana.

    Hal itu dikemukakan jenderal kelahiran Pangururan, Samosir ini dalam acara diskusi TobaDream Dialogue, Sabtu sore 91/3) di TobaDream Cafe, Jakarta. Cornel hadir di sana sebagai peserta, sedangkangkan pembicara diskusi dengan tema “Penyelamatan Danau Toba : Difficuit but Possible“‘ itu adalah Cosmas Batubara dan Bungaran Saragih. Keduanya bekas menteri.

    Pernyataan keprihatinan itu dilontarkan Cornel Simbolon pada sesi tanya-jawab. Sebenarnya yang jadi sorotan saat itu adalah upaya penyelamatan Danau Toba, terutama dari aspek pariwisata dan lingkungan. Tapi Cornel tidak mengajukan pertanyaan, malah langsung meminta perhatian dan kepedulian hadirin terhadap pembabatan hutan ynag sedang berlangsung di Tele.

    “Memang benar seperti dikatakan Lae (Suhunan) Situmorang tadi, hutan di Tele sedang terancam sekarang ini.Tidak tanggung-tanggung, hutan yang akan ditebang di kawasan tangkapan air itu mencapai 2.260 hektar. Katanya mau dibuat kebun bunga. Katanya bunganya untuk diskspor,”papar jenderal yang cinta lingkungan itu.

    “Kita sangat prihatin karena ratusan meter hutan perawan di sana sudah dibabat habis, katanya buat jalan ke areal yang akan diubah jadi kebun bunga,’tambahnya.

    “Tele itu adalah daerah tangkapan air, dan seperti tadi dijelaskan Pak Bungaran, daerah itu sangat ringkih dan rawan longsor,”tutur Cornel sambil menegaskan,”Saya setuju dengan apa yang dikatakan Lae Situmorang, saya mengerti apa yang dikuatirkannya, bahwa besar kemungkinan rencana membuat kebun bunga di bekas areal hutan seluas 2.250 hektar itu hanya kedok. “

    Yang disitir Cornel adalah ucapan Suhunan Situmorang di awal acara, saat menyampaikan kata sambutan selaku Ketua Steering Commitee TobaDream Dialogue. Suhunan membeberkan kepada hadirin mengenai pembabatan hutan di Tele, termasuk sinyalemennya bahwa target utama investor PT EJS dari Korse adalah menyikat kayu di hutan alam itu.

    “Memang sudah banyak kejadian seperti itu, “ujar Wakasad Cornel Simbolon. “Hutan dibabat, katanya mau buat kebun kelapa sawit atau kebun bunga. Tapi, setelah hutan dibabat dan kayunya dijual, investornya kabur. Makanya kita harus cermati terus perkembangan di Tele ini. Itu adalah daerah tangkapan air, sebagian masih hutan perawan. Kenapa itu harus dibabat ?”

    “Makanya kita harus selamatkan hutan Tele. Kalau perlu kita panggil Bupati Samosir Mangindar Simbolon ke Jakarta, untuk menjelaskan kebijakannya membabat hutan perawan di sana, “tegas putra Samosir yang kenal liku-liku kawasan Tele itu.

    Hutan lindung

    Letjen Cornel Simbolon, yang bicara berdasarkan hasil pengecekan terbaru di lapangan, dengan blak-blakan menyatakan kurang yakin mengenai kelayakan investasi kebun bunga di Tele. “Mau diangkut pakai apa bunga-bunga itu ke Medan ? Dan kalaupun bisa, biaya transportasinya pasti sangat mahal. Pokoknya sangat meragukan, sehingga lebih masuk akal kalau investor hanya mengincar kayunya,”ujarnya.

    Menurut Cornel, selain penyelamatan hutan Tele, agenda sangat penting yang harus segera dilakukan adalah menentukan peta hutan di Samosir. “Perlu segera dilakukan maping untuk menetapkan yang mana hutan lindung, yang mana hutan ulayat. Di Samosir belum jelas maping seperti itu.”tandasnya.

    Dalam kesempatan itu Cornel Simbolon menyatakan sangat menghargai dan mendukung program konservasi yang akan dikerjakan Komunitas TobaDream. Besok pagi (9/2) rombongan Komunitas TobaDream akan terbang ke Medan, untuk selanjutnya pada Senin 3 Maret 2008, tepat pukul 3, akan menanam pohon pada areal seluas 2 hektar di desa Martoba , Kecamatan Sidihoni, Kabupaten Samosir.

    “Sangat saya hargai dan dukung program penanaman pohon yang akan dilaksanakan Komunitas TobaDream. Tapi perlu saya pesankan, kalian harus pentingkan untuk menjalin kerjasama dengan penduduk setempat. Jangan asal nanam pohon, tapi penduduk di sana hanya jadi penonton, akan sia-sia,”kata Cornel.

  2. Kasihan kali kita orang batak, capek-capek kita mau tanam hutan 2 ha, padahal sudah 2.260 ha hutan di kawasan tele habis di gunduli PT. EJS. Apalah artinya 2 ha itu amang dibandingkan yang sudah dibabat habis PT. EJS. Kenapa bukan kita cegah dulunya PT EJS beroperasi di Tele. nga ada gunanya amang kalian buat diskusi dengan tema “Penyelamatan Danau Toba : Difficuit but Possible” kalau toh hanya sekedar cuap-cuap. Kenapa kita selalu terlambat menyelamatkan Tano Batak Nauli itu. Amang Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Letjen Cornel Simbolon ma jo memfasilitasi para orang batak yang sukses di Indonesia maupun di dunia agar membangun Tano Batak Nauli, banyak orang batak punya usaha yang besar-besar di tempat lain, kenapa tidak dibangun usaha yang cocok di Tano Batak Nauli. Kenapa harus PT EJS dari korea yang investasi di Tano Batak Nauli kenapa tidak kita???? Putra-putra Batak terbaik. Apakah putra-putra Batak yang terbaik sudah lupa sama Bona Pasogitnya??? atau malu jadi orang Batak sehingga tidak mau membangun dan berinvestasi di Tanah Batak?? Janganlah Amang dan Inang kalau sudah meninggal dan bangun tugu kita berinvestasi di Tano Batak.

Tinggalkan Balasan