Imran Napitupulu [Walau sudah 53 Tahun Merdeka]
Desa Panamean, Kecamatan Uluan, Kab. Tobasa, merupakan sebuah desa terpencil. Akses transportasi hanya bisa dicapai melalui danau Toba dengan naik kapal, menelusuri pinggiran danau. Waktu yang dibutuhkan sekitar 1 jam perjalanan dari kota Balige.Walau sudah 53 tahun merdeka, namun warga desa ini seperti masih belum merasakan arti kemerdekaan sesungguhnya.
Desa ini seolah terisolir. Letaknya persis di kaki gunung, tepian danau Toba. Jaraknya hanya beberapa mil dari sentra pengambilan batu terbesar di Sigaol. Bebeda jauh dengan nama ‘panamean’ (pesemaian). Penduduk desa yang jumlahnya hanya 35 KK ini, tidak memiliki lahan sawah. Jadi, tidak ada benih yang harus disemai. Dulu mereka membudidayakan tanaman bawang merah. Akan tetapi sekarang tidak lagi. Faktor kesuburan lahan dari daerahnya yang tandus merupakan alasan utama. Mereka tidak berani lagi menggantungkan hidupnya dari komoditas ini. Kemudian, mereka beralih menjadi petani ikan. Sebagai nelayan. Menggunakan kerambah jaring apung. Namun, jika dihitung berdasarkan analisa usaha tani, margin yang mereka peroleh tergolong minim.
Partonun, ibu-ibu pengrajin ulos masih banyak dijumpai di desa ini. Mereka bisa menopang kehidupan keluarga. Terbantu pendapatannya dari hasil bertenun. Pengrajin ulos di daerah ini, menjadi pilihan Merdi Sihombing. Ditetapkannya sebagai mitra, guna pengembangan tenun ulos Batak. “Aku sangat trenyuh melihat kondisi kehidupan saudara-saudaraku yang ada di desa ini”, kata Merdi sang desainer yang menemui mereka.Merdi mengaku, walau sudah banyak daerah terpencil dijelajahinya, namun dianya merasa sangat terkesan dengan daerah satu ini. “Aku selalu membayangkan keterisoliran daerah ini. Untuk bisa ke sini saja, harus menggunakan kapal. Aku fikir, kondisi Panamean ini, hampir tidak jauh beda dengan keadaan di Baduy sana”, ujar Merdi prihatin.
Bahkan suatu ketika, sewaktu mengikuti tim explorer jelajah ulos Batak, saya pernah memergoki Merdi sesenggukan. Terpancar sorot kesedihan yang dalam. Mungkin akibat kepekaan darah senimannya yang sensitive. Diakuinya, dia sangat sedih membayangkan kehidupan warga desa. “Aku benar-benar terharu dan sangat sedih. Kalau saja aku punya kesempatan berbuat lebih baik, Aku ingin mempersembahkannya buat saudara-saudaraku yang ada di sini” ujarnya lirih. Banyak fenomena menggelitik dijumpai. Pada daerah ini, dimana posisi penduduk pedesaan ibarat orang yang selamanya berdiri terendam dalam air sampai ke leher. Sehingga, ombak yang kecil sekalipun sudah cukup untuk menenggelamkannya.
Namun untuk memenuhi kebutuhan air minum saja, mereka cukup kewalahan. Kualitas air danau Toba hampir tidak terjamin lagi untuk dikonsumsi. Mungkin sudah terkontaminasi, akibat residu effect penggunaan pakan yang ditabur di kerambah. Kemudian, diperparah lagi dengan limbah domestic lainnya. Semua berpotensi menimbulkan pencemaran. Apalagi sulitnya jangkauan sarana transportasi darat.Warga desa Panamean mengharapkan agar pembangunan di desa ini dapat diperhatikan. Terutama sarana infra struktur, serta semua kebutuhan yang menyangkut hajat hidup manusia. “Dari dulu, sampai sekarang, beginilah kehidupan kami”, ujar seorang warga dengan pasrah.
Sepatutnyalah, pihak Pemkab Tobasa memperhatikan kehidupan warga desa Panamean yang cukup miris. Langkah-langkah perbaikan harus dilakukan. Pemerintah harus tanggap dan jeli. Panamean butuh sentuhan pembangunan. Jangan dibiarkan seolah terisolir. Minimnya fasilitas yang dimiliki desa ini, sangat memprihatinkan.
mauliate laeku….semoga dgn tulisanmu bisa membuka mata banyak bangso Batak.
horas lae, molo boi naeng manitip iklan lowongan jo nian ba. Mauliate. Horas!
Dicari
engajar Kursus Bahasa Batak, Gaji Menggiurkan!
Kalau anda mahir berbahasa Batak, punya wawasan luas dan berpembawaan luwes, andalah yang kami cari. Kami tidak mementingkan jenjang pendidikan, yang penting anda bisa baca-tulis dan memiliki pengetahuan umum yang memadai. Lebih diutamakan yang berdomisili di Jakarta.
Pekerjaan yang kami tawarkan adalah pengajar untuk Kursus Bahasa Batak kelas intensif, yang segera berjalan mulai Pebruari 2008. Saat ini kami sudah memiliki siswa sekitar 20 orang. Sebagian besar di antaranya adalah orang Batak yang lahir di perantauan. Kami menawarkan gaji yang besar bagi kandidat yang terpilih, ditambah bonus yang menarik.
Bagi peminat serius, silakan kirim surat lamaran anda melalui email ke bataksuks3s@gmail.com. Anda harus menyertakan nomor telepon rumah (kalau ada) atau HP (harus ada) ditambah foto setengah badan. Lamaran ditunggu selambat-lambatnya tanggal 20 Januari 2008.
Penyelenggara :
Kursus Bahasa Batak “TobaLover”, Jakarta
Horas,
Memang sangat prihatin jika kita melihat lebih dalam lagi keadaan Toba kita ini.
Salah satu cara menata untuk lebih baik, mari sama-sama kita peduli tentang kampung kita, berbuat apa semampu kita.
Ayo, bangkit Toba-ku!
http://tamaneden100.wordpress.com
Nunga 63 taon hita naung mardeka tulang Imran.
Lae Marihot Sirait,
Betul Lae. Kepedulian memang harus ditunjukkan. Terutama, ‘bapak-bapak’ penguasa yang jadi decession maker itu. (lewat tulisan ini, mudah-mudahan mereka semakin lebih peduli)
amangboru, Humhas M
Mauliate atas koreksinya. Alana, songoni do huroa molo nga lam matua. Sipata dang apala tung haru radot be manangkasi naung ginurathon i.
Horas.-
Aku ingin kesana.
Semoga Juli ini tidak ada kendala.
Berangkat … …